Biru

Entah hendak berapa kali aku mencercamu, Jakarta,

Langitmu memang gila mempesonanya.

Entah pagi siang petang,

Aku,

Selalu,

Sekejap jatuh cinta.

Advertisements

Sedikit tentang DistraksiDiniHari

Uhm, hi.

 

Saya mengetik ini dengan jemari yang baru saja menyentuh dahi dan leher.

Jakarta memang tidak pernah bersahabat, namun kali ini dia agaknya membuat Saya lemah dan agak demam.

 

Tapi, sudahlah tentang kota jahat ini.

Semoga tulisan ini, saat kamu yang sedang membaca, sehat-sehat saja.

 

Sedikit tentang distraksidinihari. Hanya hendak mengingat kembali, bagi diri sendiri dan pembaca (terima kasih banyak sudah mau bertandang kesini, ya!) mengapa nama frasa ini muncul dan digunakan sebagai nama laman akun WordPress ini.

 

Saya mudah di distraksi, Saya pun memilih untuk ada banyak distraksi.

Seraya mengetik ini, saya bersilih ganti dari merokok dan mewarnai doodle yang tertempel di buku catatan Saya.

Di hari lain, jika Saya sedang menyesap kopi di kedai terdekat, barang bawaan Saya banyak.

Antara laptop, handphone dan headset, buku catatan yang saya panggil ‘Archie’, dan satu buah buku bacaan. Serta rokok.

Archie ini isinya banyak : to-do list, budget plan, life plans, kumpulan puisi dan tulisan kecil lainnya, doddle, catatan penting.

Dan aktivitas senja Saya bersilih dari mengetik, membuat tulisan pada Archie, menggambar, memperkaya pilihan lagu di Spotify, merokok, hanya mendengar lagu, membaca buku, dan berulang.

 

Rambut Saya sekarang bewarna ash-lavender, loh.

 

Oke. Terminologi ‘distraksi’ tampaknya sudah terpaparkan.

 

Lalu, untuk dinihari.

 

Saya suka kesulitan untuk langsung terkantuk dan tertidur. Saya terjaga sampai pukul 2 – dan ide ataupun celetuk satu diksi bisa muncul dan membuat Saya semakin terjaga.

Banyak isi dari laman ini juga dibuat atau tercetus pada dinihari.

 

Dan kombinasi dari 2 hal tersebut melahirkan ‘distraksidinihari’ yang ada ini.

Menjelaskan banyak? Atau terasa kurang?

 

Baiklah. Senja sudah menutup diri dan Saya masih kurang enak badan.

Untuk yang akhir-akhir ini suka membaca tulisan Saya dari Amerika Serikat… Well… That’s pretty miles away.

 

Kalian semua tahu kan, WordPress memiliki fitur ‘Stats’ yang memperlihatkan statistik pembaca dan tulisan apa saja yang diakses, dari mana lokasi pengakses, bahkan dari kanal mana. Jadi, Saya tahu Sore pernah berkunjung kesini.

 

Selamat hampir malam. Sehat selalu, kita, kamu, semua!

Mereka Tidak Peduli,

Jika kita mati

dan meregang nyawa.

 

Megap-megap layaknya binatang laut yang diambil dari habitatnya,

mendamba udara yang adalah air.

 

Atau saat kita menggapai-gapai layaknya binatang darat di laut luas,

mencoba menyentuh darat yang adalah udara.

 

Atau saat menjadi hewan terbang yang terjerat jaring-jaring,

membebas diri dari udara mengikat yang adalah darat.

 

Mereka tidak peduli.

Tidak.

Peduli.

 

Kamu ini mahluk kecil.

Yang eksistensinya saja tidak ada guna.

Masih untung kamu enak dikunyah,

atau digoreng bumbu kari.

 

Kamu ini tidak ada guna.

Masih mending bisa dijadikan pajangan dan hiasan.

 

Kamu mau mati tidak ada yang peduli, dan tidak terlihat juga.

Mereka besar dan menghancurkan adalah objektif mereka.

 

Jadi, mungkin ya sedikit teman atau pacarmu sedih sebentar kalo kamu mati.

Tapi, semua sementara.

 

Mereka sang besar tetap menghancurkan.

Dan yang kecil hanya menangis sebentar.

Anggota Tubuh yang Lelah, Mereka Hendak Berpisah

Tubuh terlalu banyak stresor.

Terlalu banyak yang diminta dari tubuh,

Terlalu banyak yang dilakukan tubuh,

sehingga berpikirlah para anggota-anggota tubuh

yang lelah dan sudah jadi lemah,

untuk berpisah dan mengucap salam kira-kira seperti ini :

 

Aku adalah telapak kaki.

Hari ku dimulai terlalu berat : menopang kalian semua dan berusaha untuk menjejak. Belum jika saraf motorik mu yang habis mabuk sisa semalam masih ada, kerjaku lebih berat.

Maka maaf, aku tidak kuat lagi untuk menjejak dan menopang.

 

Aku adalah kaki, mulai dari jenjang mata sampai paha.

Aku selalu menjadi yang tertekuk dan lurus, untuk membuat mu padan dalam berlengang. Lurus tekuk lurus tekuk.

Tak seberapa lelahnya jika dibanding harus berdiri pada pesta dan sepatu runcing, sungguh mematikan otot dan rasa!

Maka maaf, aku tidak kuat lagi menekuk dan melurus untuk berjalan menuju atau berpulang.

 

Aku adalah torso, ya dada dan pinggang pinggul itu.

Aku selalu yang jadi perhatian kala baju ketatmu itu memekak lekuk tubuh – mencuri pandang, perhatian, dan keinginan tersimpan.

Tidak terhitung berapa mata kotor yang melirik dan keinginan busuk yang menilisik.

Maka maaf, aku tidak kuat lagi untuk menjadi objek bagi mata dan pikiran picik dan keranjang,

 

Aku adalah tangan dan jemari.

Gerak kami memang tidak selalu bersama tapi kami mendukung fungsi satu sama lain.

Terlalu banyak kami menopang, menunjuk, mengangkat, melempar, menggapai, menulis surat dari anggota tubuh lain yang tak mampu untuk bacaan ini sampai pada mu.

Maka maaf, aku tidak kuat lagi untuk menggapai.

 

Dan aku adalah indera perasa. Telinga, hidung, lidah, dan mata.

Terlalu banyak yang kudengar

Terlalu mematikan karsinogen yang kuhirup

Terlalu getir buah tidak masak yang kukecap

dan oh, untuk mata,

anggota tubuh terakhir yang bisa berkata,

terlalu rabun yang dapat dilihat.

Dan surat perpisahan ini, terlalu perih untuk dibaca.

 

Maka sebagai yang terakhir menyaksikan

dari singsing kelahiran, getir hidup, dan mati,

mata menjadi saksi.

 

Dan pada surat ini, ia menangis.

Tapi, Bu, aku tidak cakap dalam berenang

Tiup-tiup malas di pantai pagi.

Aku dan rambut ungu-hampir-pudar ini sedang berdiri nyaman menjadi daun.

Berfotosintesis, menggunakan sinar matahari untuk hidup.

Air beriak riun rendah sangat memanggil.

Untuk sekedar bercumbu kecil dengan jari kaki tercelup dalam sekejap,

Atau turut bercinta lebih dalam dan utuh, dengan seluruh badan basah sampai ke ubun.

Tapi aku ingat.

Aku tidak cakap berenang.

Memang, tidak sampai lutut air akan berada.

Tapi aku tidak cakap berenang.

Ramal cuaca berkata, hari ini pasang tidak akan pernah tinggi. Alam sedang malas melahap manusia dan memuntahkannya.

Tapi aku tidak cakap berenang.

Pun pria-pria disana punya mandat tersemat untuk menyelemat.

Tampak sangat cekatan pula.

Tapi aku tidak cakap berenang.

Bagaimana aku tahu aku tidak cakap berenang?

Ibuku bilang begitu.

Waktu kecil dulu aku pernah diajari, katanya, dan tidak pandai mengayuh tangan. Uang kursus terbuang cuma.

Aku juga suka dilarang.

Nanti tenggelam lalu mati, gimana?

Aku jarang juga sih, diajak ke ruang yang bercairan banyak seperti kolam renang umum.

Penuh, banyak penyakit, ada sperma orang asing loh!

Jadi aku menatap buih air pantai.

Bibirnya manyun.

Dan melambaikan tangan tanda pisah.

Air dan buih pada pantai agaknya bersedih.

Menarik diri jauh, semaking surut, semakin jauh.

‘Ajak kita percuma, oh sungguh sayang.’, kata air.

‘Memang kamu mau mengajaknya apa sih?’, kata buih.

‘Entah, hanya sedikit bermain. Jika dia menyebalkan, tentu, akan aku makan dan buang ke pusaran palung dalam. Tapi, ah, tampaknya kita tidak akan pernah tahu, ya?’

Serendipity

Tampaknya, lelangit senja kali itu memabukan.
Dan kita tidak ingin lepas dari pelukan.

Pada transisi warna langit dan riuh rendah moda transportasi berderu di jalanan,
Pada cangkir dengan genangan air kopi di dasar,
Dan asbak dengan beberapa puntung rokok dan bekas gincu,

Aku hendak berucap.
Betapa Senja itu selalu menjadi titik lupa.
Bahwa ada hal di lain ruang dan waktu kala itu.
Selain gelak tawa, bincang ringan, dan dalamnya mata.
Kita membuat semesta kita sendiri.

Yang tidak ada ruang untuk sendu.
Atau bahagia.
Karena, semua itu temporer. Ya, sama seperti temu kita ini.

Namun, tenangnya abadi. Jalinan kenangnya juga wangi.

Aku selalu pergi ke titik lupa itu, selalu.
Di saat malam sedang muram atau langit jadi abu.
Bahkan saat aku menjadi bagian riuh (tidak rendah) moda transportasi Jakarta pukul lima.

Entahlah.

Awang, hendaknya ada subuh ataupun tengah malam yang harus kita coba jejaki.

Tapi Sore hanya hadir di Senja.

Kembali, Zoe pukul 8 menuju 9.

Selalu saat senja.

Kenapa?

Pikuk kota sudah menipis.

Orang-orang kembali ke haribaan letak raganya akan terkulai.

Dan di kedai kopi ini, dipojok yang terbuka dan ilalang hijau sebagai latar,

aku berhadapan denganmu.

Dengan secangkir kopi pesananku, dan teh untukmu.

Sudah 3 jam.

Dan sudah waktunya pula makan malam.

Tapi kita berdua masih kenyang.

Tidak, bukan karena memesan menu makanan yang ada,

tapi subtansi lain.

Semenjak menjejak kaki disini,

dan sapaan ‘apa kabar’ dan ‘saya suka warna kukumu’,

kita bertukar ucap. Berbincang.

Tentang pekerjaan, tentang keadaan Bandung semenjak aku tinggal 7 bulan lalu.

Tentang informasi, dan inginmu untuk menentang teori bodoh yang beredar,

Tentang film dan lalu, bagaimana ‘Before Sunset’ menjadi padanan idealmu dan ‘Konservatif’ menjadi referensimu.

Tentang kesehatan, dan cemasmu akan nafas yang akan aku hembus di ibukota.

Tentang liburan, dan ide untuk tidak bertukar pesan lewat platform instant lagi. Kita akan bertukar pesan lewat surat seminggu sekali.

Sudah lewat 3 jam. Dan kopi ku masih terlampau manis.

Terlalu banyak gula cari yang aku tuangkan.

Dan kamu selalu tertawa dengan lontar reaksi spontanku.

Dibalik tubuh tinggi dan rambut panjang sebahumu,

yang, demi Tuhan lebih indah dan terawat dari milikku!

Dan kamu berencana memotongnya serta menanyakan pendapatku.

Dibalik tubuh tinggi dan rambut panjang sebahumu,

dengan latar ilalang hijau dan pandangan luas ke langit yang sudah berubah warnanya,

dari biru terang menjadi sendu jingga-gelap,

Aku tidak sadar ada handphone.

Aku tidak sadar ada warna yang berubah pada langit.

Aku tidak sadar ada waktu.

Aku tidak sadar ada ruang.

Aku tidak sadar limitasi duniawi.

Aku tidak sadar Bandung menunjukkan pukul sembilan.

Dan temu badaniah kita menuju usai.

Sore,

Saya harap kamu ke Jakarta.

Pagi disini tidak hangat bersambut.

Panas dan berisik.

Siang disini penuh pikuk.

Terlalu banyak peluh untuk makan siang.

Senja disini… Memang, langitnya indah.

Tapi jalanannya gila.

Di malam, saya ditawar 300 ribu tiga.

Sore, saya harap kamu ke Jakarta seperti yang kamu bilang.

Maka kita akan berjalan pada seluk kota,

dan aku akan sedikit lupa.

Sore,

Saya harap kamu ke Jakarta.

Tidurlah

Kekasihku menguap

Tanda kurangnya asupan oksigen ke otak,

juga tanda mengantuk.

Jadi yang sedang duduk-duduk ini,

aku dengan baju tidur kimono yang disimpul dan rambut terikat tinggi,

kamu masih dengan kemeja kantor dan sepatu mengkilap yang temalinya sudah tidak jelas.

Hendaknya kita makan malam,

tapi sofa ini empuk dan kau hanya ingin merebahkan badan.

 

Maka sekarang kita disini

dengan kepalamu menjuntai diatas paha, kita berbincang.

Sepatumu sudah dilepas, tapi kaos kakimu tidak.

Aku menarikan jemari dikepalamu, menekan lembut ubun-ubun

dan perlahan-lahan melembutkan tempo serta ritme suara.

 

Kamu sekejap-kejap mengatupkan mata.

 

Maka, kekasihku,

 

Tidurlah.

Kamu sudah terbangun pukul 6 ini. Menyiapkan sarapan dan mengajak anjing ke luar.

Membuka tirai kamar dan membangunkan aku dengan lembut karena kepalaku pening.

Terlalu banyak alkohol tampaknya.

 

Tidurlah.

Kamu sudah berderu dengan mesin-mesin transportasi mekanik dan asap-asap riak pagi.

Juga bebunyian klakson atau sumpah serapah.

Untuk hanya duduk di meja 2 kali 1 dan menatap monitor.

 

Tidurlah.

Aku tidak tahu apa yang telah kau lewati selama 8 jam, diantara tugas kerja dan obrolan makan siang, rapat atau istirahat rokok sebatang.

Tapi sudah cukup 8 jam mu itu membuat lelah.

 

Tidurlah.

Kamu sudah melewati lagi drama jalanan untuk kembali ke rumah.

Berpeluh dan lecek, baju mu tidak lagi lurus dan rambutmu sudah turun menempel lekat di dahi.

 

Tidurlah.

Kamu sudah melewati banyak hari ini. Melampaui banyak.

Kamu sudah bicara banyak, berjalan banyak, dan bergerak banyak.

Otakmu sudah diajak berasap.

Mungkin hatimu juga jadi lelah melihat drama hari ini.

 

Maka, tidurlah.

Pahaku akan melayakkan diri menjadi sandaran kepala mu.

Juga tanganku akan mau meringankan berat kepalamu.

 

Tidurlah,

malam terlalu malam.

Tidurlah,

pagi terlalu pagi.

 

 

 

Disaat Menulis, Aku Kehilanganmu

Sudah agak siang.

Entah pukul berapa, yang pasti matahari sudah tinggi dan silaunya agak menyengat.

Berkas-berkas cahayanya sudah panjang, dan suhu ruangan tidak sedingin malam lalu.

 

Malam lalu.

 

Aku bergidik, bukan karena suhu dan sembur AC, tidak.

Aku bergidik karena sosok yang masih lelap terbaring disisi. Yang menarik selimut sampai dagu dan mendengkur lemah lelah.

Aku bergidik karena kamu dan malam. Dari sesapan kopi dan anggur, obrolan panjang dan beberapa debat, dan pasti, kerusuhan di atas kasur.

 

Dan aku hendak menulis.

 

Seperti selalu, aku membawa buku catatan dan pulpen gel kemana pun. Menyalakan pemanas air, merobek kopi sachet dan menuangkan bubuknya lalu air panas, aku siap menulis.

Mengambil duduk diatas kursi rotan beraksesoris bantal putih, menyilakan kaki, menghadap jendela, aku bersiap menulis. Aku akan menulis.

Aku sedang menulis.

 

Pertama, kita mulai dari kaki.

Kukumu cantik terawat berpoles warna merah. Memang tidak kecil dan aku tidak peduli. Kakimu harus cukup besar menopang karya sebesarmu.

 

Bunyi dengkur terhenti.

 

Dan kakimu, itu, ya Tuhan.

Jenjang, indah, dan kuat.

Hasil dari lari pagi bersama Archie dan Dante, ya? Tampaknya anjing kita kelelahan mengikuti ritme mu.

 

Suara gesekan lembut tekstil : gaun malam dari satin, selimut, dan bed cover. Perlahan, suara kaki berpijak diatas lantai kayu.

 

Lalu, kembali ku harus menyebut Tuhan, adalah lekuk pinggung, pinggang, dan panggulmu. Rasio kesempurnaan yang nyata. Tidak sangatlah besar secara berlebihan, tapi besar dengan skala sempurna dan tepat untuk memanja mata. Kamu pun tahu benar itu.

 

Gaun satin itu tidak ketat tapi Tuhan, pun demikian lekuknya masih tampak nyata. Berdiri di depanku, tanpa kata. Tangannya terangkat dan terjulur, hendak meraih dagu. Namun ia ragu, dan membelai puncak kepala ku saja. Mencium kening, dan beranjak menyeduh air untuk membuat teh chamomile.

 

Kita perlahan naik. Lekuk dari dada sampai pinggang mu itu memiliki kurva sempurna. Seperti potongan bulan setengah sempurna itu. Bersinar dan mengambil atensi. Bagian torsomu memang tidak besar namun aku tidak peduli. Sudah tepat bersanding dengan pinggang, pun bagian itu selalu menarik.

 

Suara air diseruput, lalu diletakan diatas meja. Suara langkah yang hampir sama seperti gesek angin, penanda ia bergerak dan mendekat. Ia kembali berdiri, hendak diperhatikan atau diucapkan selamat pagi. Sampai-sampai ia meraih daguku dan menghadapkan dengan dagunya sambil membungkuk. Gaun malamnya longgar dan agak terkesiap. Lalu aku berdebar, selalu.

 

Tulang selangkamu. Tajam.

 

Tanganku ditarik dan diletakan ke pinggangnya. Kepalaku terpaksa bersandar di perutnya. Satin yang lembut itu tidak lecek.

 

Kita sekarang diwajah. Oh, dari mana aku harus memulai? Oke bibirmu. Penuh dan tentu, sensual. Dan, matamu. Sungguh, matamu. Aku sangat bisa menghabiskan satu hari penuh untuk menatapmu saja. Karena matamu penuh telisik, atensi, afeksi, pernah juga melempar marah, namun dua yang terpenting, menjadi santap malam diatas kasur dan penuh pengetahuan. Kuat dan penuh.

 

Dia mencoba masuk mencari rengkuh. Mendudukan diri diatas dan menghadapku tepat, mencoba mencari pandang. Melingkarkan tangannya dileher dan kembali membelai, bahkan, menyisir rambutku. Mencoba menarik lepas kacamata. Mencoba.

 

Tapi kemudian, sayang, adalah dirimu seutuhnya. Perangai dan tabiat, pikiran serta tindak keseharianmu. Kamu selalu bicara lugas namun lembut. Realitas adalah prioritas. Pun, kamu selalu jenaka. Aku terkadang mendapatkan diri bicara tentang satu paradigma bersamamu dan tergelak karena lelucon sarkas. Atau disaat kita berdebat, betapa serius dan cekatan kamu dalam menyanggah. Tidak mau digoyahkan. Tapi kamu lembut. Kamu lah yang membukakan temali sepatu dan melepas kaos kaki ku tadi malam karena aku terlalu mabuk untuk melakukan semua itu, bukan?

 

Suara derung. Entah derung apa.

 

Kamar ini menjadi hening seketika. Memang tidak ada musik atau apapun lagi, tapi ini sunyi yang berbeda. Mengedarkan pandangan, perempuan bergaun malam satinku tidak ada. Pun tas dan kunci mobilnya.

 

Perempuanku pergi. Aku kehilangan dia disaat aku sedang menulis tentangnya.

 

As easy as Sunday Morning

You know what I love from Saturday?

Booze.

And how the day let us to be reckless.

Cheap booze and shot at our favorite bars. High five to the bartender!

Playing machine game in corner. Tossing random target on billoard balls. Making out at the dimmest spot.

Now we’re on the tipsy-drunk state.

And a rough journey from bar door to Uber – please do sober up! Act normal.

My room is not the most neat in neighbourhood, but I put things in place.

And we wreck it all.

You pull out your polaroid and taking random pictures. I mess my board to seek for that cheap fake fur scarf to have pose with.

And sipping for more and more booze.

Ordering Mc Donalds.

Stripping down.

Laughing our ass off as you trip off of my rug.

Now it’s Sunday morning.

Sun comes striking in pushing my eyes to open wide.

And you are there.

Curling up with head lay on my shoulder.

I stroke tenderly your ash brown hair. Down to your jaw and lip.

As I look around… My room is a mess. Fries everywhere and things are not in its place.

How come sock is on my tv?

But it’s all okay.

I let stuff to be shattered and we become reckless.

Because Sunday morning is easy.

And your presence here is what I need.

When We Shared Bed

When we share the same bed,

You’ll know how much I shed hair.

My cellulite and strech mark around my butt – yea that part of me develop much.

I sometimes snore.

You’ll know my edges.

My curves and arch of my back.

My tired luring eye.

And round lip. Which I love to bite and play.

My purple nail. And how much it runs to your mostly chest and face. I love to lingering my fingers, draw you down again.

You’ll know how much I talk.

Many issue and ideas.

You’ll see how blunt I am.

Sitting crossing leg and licking ice cream.

Or going wild with the beer.

You’ll know my song.

Much, who making me swaying slow and touching myself.

You will see me bare.

Naked and full at the same time.

Much, you will see me going down on you.

Care to Share?

Oh, hi there.

You sit alone here?

Yea I happen to see you across the room and damn, gin, lady? You are one of a few.

And damn, you are so hot.

Nothing much you share in this dress, not much cleavage nor side boobs. Or way too short I can see your butt cheek.

Just black dress which follow your edges.

Damn, your edges. You got curve and it has the top point from hip to your butt.

Doesn’t mean to be rude but damn, those curves.

And I see you are constantly shifting between reading and writing. And smoking, and sipping.

Sometimes you bite your pen. With that round red lip.

Oh, that round red lip.

And smudging some to your cigarettes.

Sometimes you sway your head to soft RnB song here. And lingering your finger from your lip, touching all your skin to your collar bone.

Sensually making tension to those who see tender movement of yours – and eye which burst fire.

As if you already know, someone across the room will go straight to your lure.

Ah, it’s me.

So, sweet lady, do you care to share a night with me?

I bet you are more than just butt and lip. Curve and luring eyes.

It’s your mind and existence I would like to go fuck as well.

Membaca!

Ada yang membaca,

dari bentuk kata-kata yang bersatu.

Dari persepsi frasa.

Ada yang membaca,

dari roman muka.

Dan liuk-liuk wajah.

Ada yang membaca,

dari mata.

Dan reflektif semburan tatap.

Ada yang membaca,

dari gerak gerik.

Atau latunan lagu.

Namun ada yang membaca, dalam diam.

Pada nanar pendar dan remang.

Saat sunyi.

Pada waktu.

Di ruang.

Tanpa selak beluk fitur eksternal, ada yang membaca.

Obrolan dengan Kopi

Kusulut rokok batang ke empat, menghirup, lalu menghela asapnya.

Membiarkan sedikit kabut kecil mengaburkan pandangan, dan meletakan batang ini diujung asbak.

‘Halo, kamu. Ya, kamu yang memesan Creme Brulee. Kamu, yang baru meletakan kopi bernoda lipstick. Iya, yang sedang menimang buku di paha.

Jadi, begini. Perkenalkan, aku adalah serbuk lembut biji kopi robusta yang dipakai barista untuk membuat kopi yang sudah kau anggurkan selama 2 jam ini.

Serbuk lembut yang sama yang dipakai untuk membuat caffe latte yang kau pesan dan sudah habis 4 jam yang lalu.

Jadi… Begini.

Apakah rasaku kurang enak bagimu? Atau aromaku terlalu menyegakkan inderamu?

Bulir-bulir air sudah muncul dan berenang bebas di gelas, tanda proses kimiawi sudah berjalan.

Tanda kau tidak segera menegak kopi yang kamu minta sajikan dingin.

Sayang, cairan ini sudah tidak bersuhu.

Dingin tak mampu panas pun enggan.

Apa, mungkin kau yang dingin?

Kulihat kau selalu berputar.

Antara membaca buku, menulis di buku, memencet gawaimu, tertawa sedikit,

tapi paling sering kulihat kau termenung.

Kenapa?

Apa setelah satu sesap kopi yang pahit ini kau merasa tidak enak?

Ah, tidak mungkin. Jika begitu, tidak ada pesanan kedua, ya kan?

Lalu kenapa ku paling sering meliha kau melamun?

Berkerut loh dahimu itu, sepertinya pikiranmu selalu berpacu.

Pula kutemukan engkau menerawang jauh.

Dibalik pagar dan rumput liar, matamu memandang tepat kesana namun tidak ada target mata.

Dan yang paling merenyuh hatiku, dikala kau mengangkat dan menyila kaki,

menopangkan dagu dan lagi, melamun,

kau menitikan air mata.

Tetiba tanpa ada yang menampar mu atau berujar semena pada mu.

Lalu cepat-cepat dihapus titik air itu.

Kenapa, sayang? Apa rasaku terlalu pahit, atau tidak enak?

Tapi kau tetap memesan pula, jadi aku cukup berlega karena bukan karena aku, pastinya.

Lalu kenapa?

Apa yang buat mu bermuram dan tanpa cahaya?”

Gadis itu terkejut. Mendengar.

Membereskan semua barangnya, mematikan rokok, berdiri, lalu pergi.

“Bukan urusanmu, serbuk kopi lembut yang baik. Dadah.”

Serbuk kopi yang larut dalam air dan semakin tak berasa karena lelehan es batu, hanya tertegun.