Shia LeBouf said so

Around this time :

 Start smoking. Quit smoking.

Spend time with people or embrace being alone.


Drive around town, stay at home for straight 3 days.

Drink vodka. Eat healthy.

Go cycling on Sunday or junk food binge.


Go to a club. Kiss stranger.

Take shot from stranger.

Go to a book shop.


Do anything, wherever your feet taking you.

Whatever morning breeze whisper you.

Your heart lead you.


Do bad, lose yourself a bit.

But never be stupid.

Be as wild yourself God let you.


Cut some people out from your life.

Sign up for Tinder.

Whatev.


In the end, you know what matters.

Value of right or wrong.

How much you can contain.


So just do it.

Advertisements

Hopeless Romantic

Sudah pukul 8 di Zoe.

Dan tidak ada hela pada kata-kata semenjak matahari mengantuk dan mengatupkan mata.

Kita sama-sama menatap transisi petang menuju malam. Dengan jalan Bandung terhampar dan langit temaram berpendar di bumbungan.
Dia bicara tentang Fisika Quantum, Aljabra, dan irisan antara Agama, Filosofi, dan Ilmu Pengetahuan untuk dipergunakan mempenetrasi ide-ide bodoh seperti ‘Bumi Datar’.

 How thoughtful!


Tangan saya gatal. Saya ingin membuat perahu kertas.

‘Kamu ingin tampak seperti karakter di buku itu ya?’

Lalu saya tergelak. Aksi saya tanpa ada penetrasi eksternal. Tangan saya tidak bisa diam dan satu-satunya yang saya bisa lakukan, agar tetap dapat menatap lurus matanya dan mendengar tiap padanan hurufnya, adalah dengan seni melipat kertas. Saya tidak mungkin menulis.
Jadi saya membuat perahu kertas.

Dan membuat pula satu lagi dengan ukuran mikro, yang bisa disematkan di kuku!

Dia menyukai kuku. Dia fetish terhadap kuku. Dia kagum terhadap kuku ungu saya.
Kami bicara tentang bagaiman norma patriaki di dalam situasi tertentu, menjadi pola yang dipergunakan sebagai capital untuk mendapatkan subjek manusia lainnya, dan bagaimana subjek manusia lainnya terkadang mengeruk ketersediaan capital yang diberikan. Dan garis-garis norma wajar menjadi bias di kala kami keruk lagi.
Kami menelusur.

Bagaimana sudah lewat satu tahun dan kami ada. 

Melalui jumpa yang tidak sengaja – dan muncul lah ‘serendipity’ disitu, atau pun janji yang terlewat. Dan yang katanya perang dingin. 
Lalu dia bilang.  How he cherish all events we’ve been thru. Because all that are – simply, spontan and unplanned. 

Dia bilang, dia sangat bahagia bertemu saya di Kineruku waktu itu. 

Dan dia menorehkan centang pada daftar hopeless romantic skenarionya. 

Sambil tertawa dia bilang, betapa dia adalah hopeless romantic.

Bagaimana perjumpaan yang tak terencana, teruji oleh waktu, dan di beri limitasi, menjadi kisahan sempurna yang disadurnya dari salam satu film kesukaannya.
Kami membuat rencana. Dengan sepeda, pantai, dan bersapa melalui surel.

 He consoled me.

He is another realm of the universe indeed.

 And I told him so.

Dia hendak mengganti kontak saya menjadi ‘Lava Girl’ karena rambut saya yang bewarna cerah ini.

“Menurut kamu, bagaimana rambut saya?”

“Saya hanya kuatir kering. Itu saja. Dan padu padan dengan kuku serta jam kamu, bagus. Baik.”
Dan saya tersenyum. Sepanjang jalan saya tersenyum.
Ps. Terima kasih untuk Beng-Beng dan air mineralnya!

Sentimen Konservatif

*lagu Konservatif – The Adams terdengar mengalun*

 

Memang, Jakarta sedang menghembuskan angin yang kencang-kencangnya.

Pula, meniupkan jejak ingatan dan rasa kepada siang.

Kala waktu dan ruang tampak tanpa ujung.

 

Tanpa henti.

 

Sentimen yang dipedengarkan lagu ini sangat lembut.

Menarikan jalan kala senja oleh Sore.

Dan wajahnya yang berkilau dari refleksi berkas cahaya matahari.

Lekak lekuk trotoar Braga, angin, dan bicara,

semua seperti tanpa ujung.

Tanpa ada hari esok.

Ruang dan waktu berputar di dimensi yang sama.

 

Terus.

Dan terus.

 

*musik terhenti*

Dan aku terbangun.

Sedang duduk menggenggam kopi di teras rumah.

Lagu Konservatif sudah berhenti.

Dan loop kala senja tentang Sore sudah pudar.

Ideas that make me happy :

  • Opening new book and writing my initial and date of buying at first page
  • Going back home with public transportation and ultra bass headset banging my new Spotify Playlist
  • Unlock my bra
  • Burn aromatherapy candle
  • Before sleep masker routine
  • Writing all your shits and respective plan or life
  • Wave of thought and ideas
  • Embrace and hug my dog as soon as I open my home door
  • Respective well organize to do list

Most of all, actually doing it.

Sentimen Kotaku

Entah,
Karena album ‘Payung Teduh’ yang baru kubeli lalu di Kineruku,

Angin yang menghembus kecup pada pipi-pipi perawan,

Atau air yang mulai rintik menyentuh puncak kepala,
Tapi kotaku menjadi sangat sendu dan penuh rasa sentimental.
Penuh rayu buai untuk tetap berpijak pada tanah liatnya beberapa waktu lagi.

Atau selamanya.
Entah karena hujan, Payung Teduh, dan bergerak berkendara membuat buncahan pada hati,

Atau karena benar, kota ini mencoba bermesraan denganku.

Seperti kekasih yang mengelayut, menahan untuk aku pergi.

Untuk tetap tinggal.

Untuk meminum kopi dan kembali membaca di pekarangan belakang.
Nyatanya?

Kotaku memang mengajak aku bermesraan. Bahkan, hampir mungkin bercinta.

When you kinda succ but also kinda curious what life has left to over

I’m not saying I have the most rough life to then, is okay to feel so. But the life matter it self is subjective so one to another may differ in term of issue, ability to deal to such, and else.
And in such stage of life, with such state mind, I kinda losing it. You know, spark to live. And that’s kinda suck. Why? Because then mind divert to some else in which, for current time, is doing it’s crazy way to develop such a-b-c thoughts. Not to mention, some of minor issue and major one kinda pressing me on to develop more dark thoughts. More unease. More I don’t deserve affection. More I never do good. More I’m a bad partner. More I don’t have reason to life. More hard for me to fake my smile.
Whoa already lengthy.
Sweet Lord Jesus if you ever exist.
Suck. It suck so bad.

That whatever now within me is a lunatic mixture of rage, anger, sad, not belong, not having essence of life and sort,

Not capable to function.

Days go by with me, nothing, function. In between robot day mode and swollen heart at night.
I wonder how can I keep alive.

We Both Wounded

Oh my dear.
What has the world has done to us?

What damage and hurt it’s been cause to us?

Thru violation and manipulation of trust.

Thru words and act of stupidity.
What world has been doing to us?

To our poor heart.

To our poor soul.

To tear our bone from flesh apart.

To make us feel hurt so much we kinda lose it.

How damaging it is, right?
Oh my dear.

I hear you cry last night.

And I’m still shaking to hear your sob.
It is too much, too much.

Space and time also make us apart.

Too much, it is too much.

Suguhan Senja Jakarta

Ada yang aneh dengan kota ini.
Idealku, bangun pagi karena suara kokok ayam.

Dan sedikit kicau gosip ibu-ibu dan tukang sayur.

Tapi nyata, tidak.

Gerung mesin-mesin moda transportasi dan klakson.

Serta sedikit sumpah serapah.
Idealku, matahari menyambut langkah pertama dengan hangat.

Tidak lebih tidak kurang memancarkan dirinya.

Tapi tidak.

Jidatku mulai berkeringat.

Dan solekan ku mulai agak luntur.
Dan kala rusuh kerja sudah menghilang,

kembali aku berada di haluan jalan.

Tempat orang-orang menua, katanya.

Asap maki lelah dan basi jiwa bergulat

Berkemelut dengan aspal dan traffic light.

 

Oh Jakarta betapa aneh dirimu.

Betapa sedikit banyak membuat tanya-tanya baru.
Tapi senjamu begitu memikat.

Erat dan tajam.

Terkadang digoreskan sendu,

Terkadang sedikit sensual.

Torehan jingga ungu, birumu,

Lembayungmu

Oh Jakarta.

Khidmat.
Dan terkadang erotis.
Apa sih, yang rahasiamu?

Penenun riuh pada matahari

dan sontak hingar bingar kala bulan menjelang.

Makian dan asap monoksida yang sesaki siang

Kilap lampu dan alkohol jadi teman malam.