janji pada sebatang rokok

pernah kah kita membuat janji pada sebatang rokok,

setelah batang ini aku akan mandi?

 

atau setelah batang ini, aku akan tidur?

setelah batang ini, aku akan lekas berpakaian dan pergi?

pada sebatang rokok ini, aku akan berhenti merokok?

 

Aku, selalu. mengucap janji tak ditepati pada sebatang rokok.

sebatang jadi tiga

5 menit jadi 30.

dan seterusnya.

 

aku bersalah pada batang rokok.

dan ucap-ucap janji yang diingkar.

 

Tidak kah kita semua begitu?

Hanyut pada asap dan akitvitas mengisap dan menghembus.

 

Menyalahi waktu dan mendusta diri.

Janji pada sebatang rokok merupakan bentuk dari negasi diri.

 

 

Advertisements

Adegan Hollywood membuatku menangis.

Tidak kah kamu merasa sakit atau sedih setelah menonton film yang hebat?

 

Berbagai gambar dan frasa-frasa indah yang dilontarkan,

Skenario yang apik,

Adegan-adegan yang penuh romantisme,

dan kesadaran bahwa hal-hal tersebut hanya bentuk angan belaka.

 

Yang ditulis diatas kertas dan disalurkan melalui adegan demi adegan.

Ditambah padanan busana, cahaya, riasan, dan tentu, naskah yang memabukkan.

Tidak kah kita merasa senang dan ingin lompat masuk ke dalam imaji tersebut?

 

Di antara Paris dan hujannya.

Perjalanan di antara dua orang asing di kota yang tidak terlalu dikenalnya.

Buku dan catatan.

 

Tidak kah itu menyenangkan?

 

 

Sebut saja semua film yang hendaknya kalian ingin masuki.

Atau yang membuat hati berbuncah ria.

 

Aku sendiri, pada Before Trilogy dan Midnight in Paris.

 

Terlalu apik dan indah.

Dan pada setiap film dimulai, pada titik-titik tertentu, aku dengan jujur hendak menangis dan menitikan air mata.

 

Semua gambaran yang ditonton ini, semua indah ria yang melintas ini,

sang aktor dan aktris, busana dan padanan kota,

hanyalah ilusi.

 

Dan aku sangat terhisap pada ilusi tersebut.

 

Untuk dapat menikmati kota sendiri tanpa banyak kendaraan lalu lalang.

Atau adanya ruang cukup personal di taman publik.

Wajah-wajah orang asing yang tampak hangat.

Dan semua adegan palsu berupa ilusi yang mendampingi.

 

Terlebih, aku sangat terhisap dengan ide pada film tersebut.

Korespondensi dan relasi yang sederhana pada film Before Trilogy,

atau perbincangan dengan F. Scott Fitzgerald dan Salvador Dali pada Midnight in Paris.

SIAPA YANG TIDAK MAU?

 

Ide-ide ini merasuk dan membuatku melompat-lompat dalam pikiran.

Merasuk menjadi ingin.

Dan ingin menjadi luput mengingat realita sekarang.

 

Aku pernah ke Paris.

Museum Louvre memang sangat, cantik, sekali.

Dan aku tidak diberitahu betapa banyak manusia lainnya disitu.

Atau pedestriannya yang penuh dengan kedai-kedai kopi dan juga kendaraan yang parkir.

Lalu manusia lagi.

 

 

Nyatanya, semua adegan yang hendaknya aku ingin buat jadi nyata itu penuh taksa dan hanya ilusi.

Tidak akan ada ruang sendiri untuk bercumbu di taman kota

atau singgungan yang apik,

atau pertemuan dengan Dali,

tidak ada yang akan jadi nyata disana.

 

Dan karena realita ini, aku menangis.

 

 

“Apakah mungkin kita menghapus seseorang, Bu?

Membuang jejak ingatannya dan membuat jalin kenang baru tanpa eksistensinya?

Melepehnya layaknya permen karet usang yang habis dikunyah?”

Tertegun, Sang Ibu yang sedang merapikan bunga terdiam.

Bunganya sudah layu dan pasti akan dibuang.

“Tentu, sayang. Ibu hendak merapikan bunga ini, contohnya. Sedap malam semerbaknya memang wangi namun tidak abadi. Dalam 3 hari sudah harus diganti. Ingatkah kamu Ibu ajak ke pasar dan bunga yang melayu ini dulunya cantik dan tegak?

Airnya selalu Ibu ganti.

Tapi toh dia melayu juga. Dan Ibu harus menggantinya dengan yang baru. Seperti itulah. Buang saja kenang usah dan melayu, ganti dia jadi yang baru.”

“Tapi Bu, manusia bukanlah bunga. ”

“Memang bukan, sayang. Tapi untuk apalah menyimpan hal usang dalam benak yang tidak beranjak? Tidak ada guna.

Kau pikir, bagaimana Ibu melupakan dan membuang kenang ayahmu?”

Si Anak diam dan menatap bingkai foto yang tergolek diatas piano. 3 orang disana dengan 1 imaji terkoyak bekas peluru yang menembus.

Si Anak terdiam dan tersenyum.

“Jadi, jika aku hendak membuang kenang seseorang, aku tembak saja dia sampai mati.”

“Apakah mungkin kita menghapus seseorang, Bu?

Membuang jejak ingatannya dan membuat jalin kenang baru tanpa eksistensinya?

Melepehnya layaknya permen karet usang yang habis dikunyah?”

Tertegun, Sang Ibu yang sedang merapikan bunga terdiam.

Bunganya sudah layu dan pasti akan dibuang.

“Tentu, sayang. Ibu hendak merapikan bunga ini, contohnya. Sedap malam semerbaknya memang wangi namun tidak abadi. Dalam 3 hari sudah harus diganti. Ingatkah kamu Ibu ajak ke pasar dan bunga yang melayu ini dulunya cantik dan tegak?

Airnya selalu Ibu ganti.

Tapi toh dia melayu juga. Dan Ibu harus menggantinya dengan yang baru. Seperti itulah. Buang saja kenang usah dan melayu, ganti dia jadi yang baru.”

“Tapi Bu, manusia bukanlah bunga. ”

“Memang bukan, sayang. Tapi untuk apalah menyimpan hal usang dalam benak yang tidak beranjak? Tidak ada guna.

Kau pikir, bagaimana Ibu melupakan dan membuang kenang ayahmu?”

Si Anak diam dan menatap bingkai foto yang tergolek diatas piano. 3 orang disana dengan 1 imaji terkoyak bekas peluru yang menembus.

Si Anak terdiam dan tersenyum.

“Jadi, jika aku hendak membuang kenang seseorang, aku tembak saja dia sampai mati.”

Terkata, Yogyakarta

Jadi Yogyakarta kurasa sama dengan Bandung.

Hidupnya yang di kala akhir pekan penuh dan penuh.

Tapi, Yogyakarta berbeda.

Entah karena jalanannya yang tidak se pikuk Bandung,

pedestriannya yang cantik dan cukup untuk 2 orang bertali tangan,

atau dia sebagai temali tanganku.

Saya percaya orang datang dan pergi.

Garis persinggungan hidup, siapa yang tahu?

Dan untuknya, persinggungan yang sedang dijalankan, mari berucap.

‘Maaf dan terima kasih’

Untuk 3 hari yang penuh kata.

Tak habis kita bicara – sampai menggunakan urat jua.

Untuk jejalan di jalur pejalan kaki

Di kota penuh kearifan lokal : Yogyakarta dan Salatiga.

Dan guyuran tangis kampung halamanku.

Serta rapalan doamu yang memanjat di makam pada langit yang berseri.

Hendaknya aku akan selalu mengingat di saat kita hendak tidur.

Rengkuh hangat dan cium kening.

Atau saat terbangun pagi.

‘5 menit lagi’ mu dan upayaku menggugah rayuanmu dari pulau mimpi.

Atau pada 126 kilometer perjalanan menuju riuh ombak pantai

Dan kulit belangmu (sudah kubilang, pakai krim tabir surya!)

Pada temali di tangan. Selalu.

Dan hadir mu dalam persinggungan ini.

Yang entah sampai kapan.

Tapi hendak selalu kuucap

‘Maaf dan terima kasih’

Ps. Zsa Zsa Zsu pada Prawirotaman.

Sedikit tentang DistraksiDiniHari

Uhm, hi.

 

Saya mengetik ini dengan jemari yang baru saja menyentuh dahi dan leher.

Jakarta memang tidak pernah bersahabat, namun kali ini dia agaknya membuat Saya lemah dan agak demam.

 

Tapi, sudahlah tentang kota jahat ini.

Semoga tulisan ini, saat kamu yang sedang membaca, sehat-sehat saja.

 

Sedikit tentang distraksidinihari. Hanya hendak mengingat kembali, bagi diri sendiri dan pembaca (terima kasih banyak sudah mau bertandang kesini, ya!) mengapa nama frasa ini muncul dan digunakan sebagai nama laman akun WordPress ini.

 

Saya mudah di distraksi, Saya pun memilih untuk ada banyak distraksi.

Seraya mengetik ini, saya bersilih ganti dari merokok dan mewarnai doodle yang tertempel di buku catatan Saya.

Di hari lain, jika Saya sedang menyesap kopi di kedai terdekat, barang bawaan Saya banyak.

Antara laptop, handphone dan headset, buku catatan yang saya panggil ‘Archie’, dan satu buah buku bacaan. Serta rokok.

Archie ini isinya banyak : to-do list, budget plan, life plans, kumpulan puisi dan tulisan kecil lainnya, doddle, catatan penting.

Dan aktivitas senja Saya bersilih dari mengetik, membuat tulisan pada Archie, menggambar, memperkaya pilihan lagu di Spotify, merokok, hanya mendengar lagu, membaca buku, dan berulang.

 

Rambut Saya sekarang bewarna ash-lavender, loh.

 

Oke. Terminologi ‘distraksi’ tampaknya sudah terpaparkan.

 

Lalu, untuk dinihari.

 

Saya suka kesulitan untuk langsung terkantuk dan tertidur. Saya terjaga sampai pukul 2 – dan ide ataupun celetuk satu diksi bisa muncul dan membuat Saya semakin terjaga.

Banyak isi dari laman ini juga dibuat atau tercetus pada dinihari.

 

Dan kombinasi dari 2 hal tersebut melahirkan ‘distraksidinihari’ yang ada ini.

Menjelaskan banyak? Atau terasa kurang?

 

Baiklah. Senja sudah menutup diri dan Saya masih kurang enak badan.

Untuk yang akhir-akhir ini suka membaca tulisan Saya dari Amerika Serikat… Well… That’s pretty miles away.

 

Kalian semua tahu kan, WordPress memiliki fitur ‘Stats’ yang memperlihatkan statistik pembaca dan tulisan apa saja yang diakses, dari mana lokasi pengakses, bahkan dari kanal mana. Jadi, Saya tahu Sore pernah berkunjung kesini.

 

Selamat hampir malam. Sehat selalu, kita, kamu, semua!

Membaca!

Ada yang membaca,

dari bentuk kata-kata yang bersatu.

Dari persepsi frasa.

Ada yang membaca,

dari roman muka.

Dan liuk-liuk wajah.

Ada yang membaca,

dari mata.

Dan reflektif semburan tatap.

Ada yang membaca,

dari gerak gerik.

Atau latunan lagu.

Namun ada yang membaca, dalam diam.

Pada nanar pendar dan remang.

Saat sunyi.

Pada waktu.

Di ruang.

Tanpa selak beluk fitur eksternal, ada yang membaca.

Obrolan dengan Kopi

Kusulut rokok batang ke empat, menghirup, lalu menghela asapnya.

Membiarkan sedikit kabut kecil mengaburkan pandangan, dan meletakan batang ini diujung asbak.

‘Halo, kamu. Ya, kamu yang memesan Creme Brulee. Kamu, yang baru meletakan kopi bernoda lipstick. Iya, yang sedang menimang buku di paha.

Jadi, begini. Perkenalkan, aku adalah serbuk lembut biji kopi robusta yang dipakai barista untuk membuat kopi yang sudah kau anggurkan selama 2 jam ini.

Serbuk lembut yang sama yang dipakai untuk membuat caffe latte yang kau pesan dan sudah habis 4 jam yang lalu.

Jadi… Begini.

Apakah rasaku kurang enak bagimu? Atau aromaku terlalu menyegakkan inderamu?

Bulir-bulir air sudah muncul dan berenang bebas di gelas, tanda proses kimiawi sudah berjalan.

Tanda kau tidak segera menegak kopi yang kamu minta sajikan dingin.

Sayang, cairan ini sudah tidak bersuhu.

Dingin tak mampu panas pun enggan.

Apa, mungkin kau yang dingin?

Kulihat kau selalu berputar.

Antara membaca buku, menulis di buku, memencet gawaimu, tertawa sedikit,

tapi paling sering kulihat kau termenung.

Kenapa?

Apa setelah satu sesap kopi yang pahit ini kau merasa tidak enak?

Ah, tidak mungkin. Jika begitu, tidak ada pesanan kedua, ya kan?

Lalu kenapa ku paling sering meliha kau melamun?

Berkerut loh dahimu itu, sepertinya pikiranmu selalu berpacu.

Pula kutemukan engkau menerawang jauh.

Dibalik pagar dan rumput liar, matamu memandang tepat kesana namun tidak ada target mata.

Dan yang paling merenyuh hatiku, dikala kau mengangkat dan menyila kaki,

menopangkan dagu dan lagi, melamun,

kau menitikan air mata.

Tetiba tanpa ada yang menampar mu atau berujar semena pada mu.

Lalu cepat-cepat dihapus titik air itu.

Kenapa, sayang? Apa rasaku terlalu pahit, atau tidak enak?

Tapi kau tetap memesan pula, jadi aku cukup berlega karena bukan karena aku, pastinya.

Lalu kenapa?

Apa yang buat mu bermuram dan tanpa cahaya?”

Gadis itu terkejut. Mendengar.

Membereskan semua barangnya, mematikan rokok, berdiri, lalu pergi.

“Bukan urusanmu, serbuk kopi lembut yang baik. Dadah.”

Serbuk kopi yang larut dalam air dan semakin tak berasa karena lelehan es batu, hanya tertegun.

Untuk tidur, atau tidak tidur.

Sudah pukul satu.

Lewat tengah malam.

Dan nafas-nafas entitas malam menyaur pada waktu.

Suara tetes-tetes air keran yang tidak diputar sempurna meriak dari wastafel.

Pun dengkuran rendah air conditioner.

Dari sudut kamar, ringan nafas anjing terlelap tidur memeluk diri, berpacu dengan jantungnya, menjadi ritme penanda satu detik pengganti jam dinding.

Entitas lain juga belum tertidur.

Dengung lampu taman komplek yang stagnan menganggu masih terngiang. Duh.

Sesekali lolongan anjing dari rumah diujung bisa terdengar juga. Berteriak lemah meminta makan, atau mencari perhatian.

Jika beruntung, ketuk benda tajam Pak Hansip pada tiang listrik akan menjadi efek kejut dari gerak statis pengunjung malam.

Semut-semut masih bergerilya, bergerak menanjak meja dapur untuk remahan kue sisa makan malam.

Angin masih mendesah meniupkan hawa dingin, menggelitik kulit yang diciumnya.

Beberapa lampu halogen kendaraan masih berpendar di jejalan, rodanya berputar bergerak menuju tujuan.

Tampaknya pun, jiwa-jiwa muda haus bunyi jedak-jeduk baru saja menginjak kaki pada lantai dansa dengan sedikit mabuk. Atau terlalu mabuk.

Sepertinya Aku harus mengevaluasi kembali malam ini. Pada pukul satu, di waktu, apa kah ikut terlelap beristirahat raga, atau,

ikut saja gegap gempita entitas malam dan dinamikanya.

Shia LeBouf said so

Around this time :

 Start smoking. Quit smoking.

Spend time with people or embrace being alone.


Drive around town, stay at home for straight 3 days.

Drink vodka. Eat healthy.

Go cycling on Sunday or junk food binge.


Go to a club. Kiss stranger.

Take shot from stranger.

Go to a book shop.


Do anything, wherever your feet taking you.

Whatever morning breeze whisper you.

Your heart lead you.


Do bad, lose yourself a bit.

But never be stupid.

Be as wild yourself God let you.


Cut some people out from your life.

Sign up for Tinder.

Whatev.


In the end, you know what matters.

Value of right or wrong.

How much you can contain.


So just do it.

Ideas that make me happy :

  • Opening new book and writing my initial and date of buying at first page
  • Going back home with public transportation and ultra bass headset banging my new Spotify Playlist
  • Unlock my bra
  • Burn aromatherapy candle
  • Before sleep masker routine
  • Writing all your shits and respective plan or life
  • Wave of thought and ideas
  • Embrace and hug my dog as soon as I open my home door
  • Respective well organize to do list

Most of all, actually doing it.

Sentimen Kotaku

Entah,
Karena album ‘Payung Teduh’ yang baru kubeli lalu di Kineruku,

Angin yang menghembus kecup pada pipi-pipi perawan,

Atau air yang mulai rintik menyentuh puncak kepala,
Tapi kotaku menjadi sangat sendu dan penuh rasa sentimental.
Penuh rayu buai untuk tetap berpijak pada tanah liatnya beberapa waktu lagi.

Atau selamanya.
Entah karena hujan, Payung Teduh, dan bergerak berkendara membuat buncahan pada hati,

Atau karena benar, kota ini mencoba bermesraan denganku.

Seperti kekasih yang mengelayut, menahan untuk aku pergi.

Untuk tetap tinggal.

Untuk meminum kopi dan kembali membaca di pekarangan belakang.
Nyatanya?

Kotaku memang mengajak aku bermesraan. Bahkan, hampir mungkin bercinta.

When you kinda succ but also kinda curious what life has left to over

I’m not saying I have the most rough life to then, is okay to feel so. But the life matter it self is subjective so one to another may differ in term of issue, ability to deal to such, and else.
And in such stage of life, with such state mind, I kinda losing it. You know, spark to live. And that’s kinda suck. Why? Because then mind divert to some else in which, for current time, is doing it’s crazy way to develop such a-b-c thoughts. Not to mention, some of minor issue and major one kinda pressing me on to develop more dark thoughts. More unease. More I don’t deserve affection. More I never do good. More I’m a bad partner. More I don’t have reason to life. More hard for me to fake my smile.
Whoa already lengthy.
Sweet Lord Jesus if you ever exist.
Suck. It suck so bad.

That whatever now within me is a lunatic mixture of rage, anger, sad, not belong, not having essence of life and sort,

Not capable to function.

Days go by with me, nothing, function. In between robot day mode and swollen heart at night.
I wonder how can I keep alive.

We Both Wounded

Oh my dear.
What has the world has done to us?

What damage and hurt it’s been cause to us?

Thru violation and manipulation of trust.

Thru words and act of stupidity.
What world has been doing to us?

To our poor heart.

To our poor soul.

To tear our bone from flesh apart.

To make us feel hurt so much we kinda lose it.

How damaging it is, right?
Oh my dear.

I hear you cry last night.

And I’m still shaking to hear your sob.
It is too much, too much.

Space and time also make us apart.

Too much, it is too much.

Suguhan Senja Jakarta

Ada yang aneh dengan kota ini.
Idealku, bangun pagi karena suara kokok ayam.

Dan sedikit kicau gosip ibu-ibu dan tukang sayur.

Tapi nyata, tidak.

Gerung mesin-mesin moda transportasi dan klakson.

Serta sedikit sumpah serapah.
Idealku, matahari menyambut langkah pertama dengan hangat.

Tidak lebih tidak kurang memancarkan dirinya.

Tapi tidak.

Jidatku mulai berkeringat.

Dan solekan ku mulai agak luntur.
Dan kala rusuh kerja sudah menghilang,

kembali aku berada di haluan jalan.

Tempat orang-orang menua, katanya.

Asap maki lelah dan basi jiwa bergulat

Berkemelut dengan aspal dan traffic light.

 

Oh Jakarta betapa aneh dirimu.

Betapa sedikit banyak membuat tanya-tanya baru.
Tapi senjamu begitu memikat.

Erat dan tajam.

Terkadang digoreskan sendu,

Terkadang sedikit sensual.

Torehan jingga ungu, birumu,

Lembayungmu

Oh Jakarta.

Khidmat.
Dan terkadang erotis.
Apa sih, yang rahasiamu?

Penenun riuh pada matahari

dan sontak hingar bingar kala bulan menjelang.

Makian dan asap monoksida yang sesaki siang

Kilap lampu dan alkohol jadi teman malam.