Kamu tahu?

Kematian adalah momen temporer.

Yang khidmatnya hanya sekejap, seperti lembayung pada transisi sore menuju malam.

Sekejap ada.

Sekejap berlalu.

Lalu mengaduh jadi abu.

Dan kita kembali berseteru,

dengan pekak pagi dan mabuk malam – perjalanan hari.

Maka, mengapa kamu menangis sayang?

Jangan menyusahkan riasan matamu.

Dan mendesak sakit dadamu yang pedih karena kehilangan.

Percuma. Absensiku ini, eksistensi sementara kabungmu, taksa.

Pulanglah. Makanlah nasi hangat dan tidurlah cepat.

Aku tidak akan hadir lagi mengetuk pintumu.

Dan pun beberapa hari lagi kau akan lupa rupaku.

Advertisements

Terkoyak

Aku mengoyak bajumu.

Merobeknya disaat hendak aku menahanmu pergi.

Dan tidak ada apa lagi yang dapat membuatku lebih sedih selain membuatmu semakin ingin lekas pergi.

Kemejamu memang sudah usang, dan kau membuat canda bagaimana akhirnya kau akan membeli yang baru.

Tapi ini kemeja favoritmu. Kemeja putih usang yang masih rapi kau gosok sampai ke ujungnya.

Dan selalu wangi aku cium.

Aku mengoyak kemeja putihmu.

Di antara perdebatan kita dan kegilaanku, entah, aku memilih untuk menahanmu dibagian kemeja.

Bukan dengan memelukmu seperti biasa sedia kala.

Dan semua akan baik-baik saja.

Aku menambah usik pada runyam kepalamu.

Aku sangat sadar itu.

Dan dengan kemeja putih yang terkoyak, semakin aku ditampar.

Aku membuatmu membenciku.

Aku menangis dan bertubi-tubi memukulmu.

Dan dengan kemeja putihmu yang terkoyak, kau memegang tanganku.

Belum pergi jua.

Tapi harus.

Karena bajumu terkoyak.

Sekarang kau pergi dan aku merasa sedih. Aku turut membasuh wajah seperti langit membasuh bumi hari ini.

Dengan warna abu tergulung dan penyesalan sudah mengusir matahari,

seperti aku mengusikmu.

Aku minta maaf.

Untuk semua dan kemeja putihmu yang terkoyak.

Maaf, aku tidak mampu menulis tentangmu

Dia tertidur, agak mendengkur,

dan pulas.

 

Di sisi ranjang lain dengan seluruh selimut membungkus tubuhnya.

Seperti burito.

Tangannya tergolek ke luar rengkuh hangat pulau mimpi

lalu aku meraih dan mencium punggungnya.

 

Jarahan sinar matahari yang menerobos masuk dari sela-sela terlalu cantik.

Sangat cantik aku hendak membuatkannya prosa.

 

 

“Kamu lagi apa?”

 

Kekasihku duduk sambil menggaruk-garuk kelopak mata.

Kekasihku terbangun.

Refleksi laras sinar pagi dan tubuhnya menyemburatkan hangat.

Dan aku, terlalu jatuh cinta sampai aku tidak merasa.

 

“Menulis tentang sinar matahari,” kataku.

“Dan aku?” tanyanya.

 

Aku tidak pernah menulis tentangnya.

 

 

“Kamu tahu? Aku agaknya sedikit cemburu dengan badaniah wanita-wanita lalu yang dapat kau tulis setiap lekuknya.

Atau pada gugur daun di pekarangan kedai kopi yang kau temukan sangat menyentuh hati.

Atau pada langit dan sendu gila petang saat orang-orang hijrah kembali ke rumah, penuh dengan asap karsinogen dan sisa lelah kerja.

Aku cemburu.

Semua dapat kau tulis, hampir pasti kau sentuh dan kau kagumi eksistensi dan presensinya.

Tapi aku? Kau tidak pernah menulis tentang aku?

Am I even real in your poetic universe?” cerocosnya. Dia marah.

 

Terlalu nyata.

“Kamu, aku tidak mampu menulis tentang kamu.

Betapapun aku mencoba keras dan selalu menyusurkan jemariku, menari di wajahmu pada temaram malam dan bulan,

aku tidak dapat menulis tentangmu.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena tulisan ku ini tidak nyata. Selalu seperti angan dan kabut pagi yang bias adanya dan tidak dapat aku sentuh. Tapi kamu disini, terlalu nyata untuk aku cium.

Tulisanku itu tulisan-tulisan mimpi. Buah-buah dari ketidakmampuanku. Surreal.

Dan… Manifestasi sekelebat cecaran di otak.

Tapi kamu nyata. Senyata kemarahanmu sekarang.

Aku tidak tahu kenapa, aku tidak dapat menulis tentangmu.

Agaknya aku menjadi pengecut dan takut jika aku menarikan kata tentang dirimu,

kamu akan menjadi asap dan kabut yang hilang setelah pagi tidak lagi bersahabat

dan langit menjadi terik. Aku akan jadi tandus dan kering.

Kamu terlalu nyata.

Dan aku terlalu takut untuk menuliskanmu sebagai mimpi dan kabut.”

 

 

Matanya memancarkan ketidakpercayaan dan kebingungan.

Dia bergegas menggunakan pakaian dan mengambil kunci mobil.

 

Tanpa sepatah kata, dia pergi dan deru kendaraan sudah menandakan berapa jauhnya dia dari rumah.

 

Matahari sudah tidak menarik lagi.

Juga sayup kecup angin pagi.

 

Aku menangis tanpa air mata.

Memaki inkapabilitasku dalam merajut kata dan tentang subjek cinta.

Mereka Tidak Peduli,

Jika kita mati

dan meregang nyawa.

 

Megap-megap layaknya binatang laut yang diambil dari habitatnya,

mendamba udara yang adalah air.

 

Atau saat kita menggapai-gapai layaknya binatang darat di laut luas,

mencoba menyentuh darat yang adalah udara.

 

Atau saat menjadi hewan terbang yang terjerat jaring-jaring,

membebas diri dari udara mengikat yang adalah darat.

 

Mereka tidak peduli.

Tidak.

Peduli.

 

Kamu ini mahluk kecil.

Yang eksistensinya saja tidak ada guna.

Masih untung kamu enak dikunyah,

atau digoreng bumbu kari.

 

Kamu ini tidak ada guna.

Masih mending bisa dijadikan pajangan dan hiasan.

 

Kamu mau mati tidak ada yang peduli, dan tidak terlihat juga.

Mereka besar dan menghancurkan adalah objektif mereka.

 

Jadi, mungkin ya sedikit teman atau pacarmu sedih sebentar kalo kamu mati.

Tapi, semua sementara.

 

Mereka sang besar tetap menghancurkan.

Dan yang kecil hanya menangis sebentar.

Anggota Tubuh yang Lelah, Mereka Hendak Berpisah

Tubuh terlalu banyak stresor.

Terlalu banyak yang diminta dari tubuh,

Terlalu banyak yang dilakukan tubuh,

sehingga berpikirlah para anggota-anggota tubuh

yang lelah dan sudah jadi lemah,

untuk berpisah dan mengucap salam kira-kira seperti ini :

 

Aku adalah telapak kaki.

Hari ku dimulai terlalu berat : menopang kalian semua dan berusaha untuk menjejak. Belum jika saraf motorik mu yang habis mabuk sisa semalam masih ada, kerjaku lebih berat.

Maka maaf, aku tidak kuat lagi untuk menjejak dan menopang.

 

Aku adalah kaki, mulai dari jenjang mata sampai paha.

Aku selalu menjadi yang tertekuk dan lurus, untuk membuat mu padan dalam berlengang. Lurus tekuk lurus tekuk.

Tak seberapa lelahnya jika dibanding harus berdiri pada pesta dan sepatu runcing, sungguh mematikan otot dan rasa!

Maka maaf, aku tidak kuat lagi menekuk dan melurus untuk berjalan menuju atau berpulang.

 

Aku adalah torso, ya dada dan pinggang pinggul itu.

Aku selalu yang jadi perhatian kala baju ketatmu itu memekak lekuk tubuh – mencuri pandang, perhatian, dan keinginan tersimpan.

Tidak terhitung berapa mata kotor yang melirik dan keinginan busuk yang menilisik.

Maka maaf, aku tidak kuat lagi untuk menjadi objek bagi mata dan pikiran picik dan keranjang,

 

Aku adalah tangan dan jemari.

Gerak kami memang tidak selalu bersama tapi kami mendukung fungsi satu sama lain.

Terlalu banyak kami menopang, menunjuk, mengangkat, melempar, menggapai, menulis surat dari anggota tubuh lain yang tak mampu untuk bacaan ini sampai pada mu.

Maka maaf, aku tidak kuat lagi untuk menggapai.

 

Dan aku adalah indera perasa. Telinga, hidung, lidah, dan mata.

Terlalu banyak yang kudengar

Terlalu mematikan karsinogen yang kuhirup

Terlalu getir buah tidak masak yang kukecap

dan oh, untuk mata,

anggota tubuh terakhir yang bisa berkata,

terlalu rabun yang dapat dilihat.

Dan surat perpisahan ini, terlalu perih untuk dibaca.

 

Maka sebagai yang terakhir menyaksikan

dari singsing kelahiran, getir hidup, dan mati,

mata menjadi saksi.

 

Dan pada surat ini, ia menangis.

Tapi, Bu, aku tidak cakap dalam berenang

Tiup-tiup malas di pantai pagi.

Aku dan rambut ungu-hampir-pudar ini sedang berdiri nyaman menjadi daun.

Berfotosintesis, menggunakan sinar matahari untuk hidup.

Air beriak riun rendah sangat memanggil.

Untuk sekedar bercumbu kecil dengan jari kaki tercelup dalam sekejap,

Atau turut bercinta lebih dalam dan utuh, dengan seluruh badan basah sampai ke ubun.

Tapi aku ingat.

Aku tidak cakap berenang.

Memang, tidak sampai lutut air akan berada.

Tapi aku tidak cakap berenang.

Ramal cuaca berkata, hari ini pasang tidak akan pernah tinggi. Alam sedang malas melahap manusia dan memuntahkannya.

Tapi aku tidak cakap berenang.

Pun pria-pria disana punya mandat tersemat untuk menyelemat.

Tampak sangat cekatan pula.

Tapi aku tidak cakap berenang.

Bagaimana aku tahu aku tidak cakap berenang?

Ibuku bilang begitu.

Waktu kecil dulu aku pernah diajari, katanya, dan tidak pandai mengayuh tangan. Uang kursus terbuang cuma.

Aku juga suka dilarang.

Nanti tenggelam lalu mati, gimana?

Aku jarang juga sih, diajak ke ruang yang bercairan banyak seperti kolam renang umum.

Penuh, banyak penyakit, ada sperma orang asing loh!

Jadi aku menatap buih air pantai.

Bibirnya manyun.

Dan melambaikan tangan tanda pisah.

Air dan buih pada pantai agaknya bersedih.

Menarik diri jauh, semaking surut, semakin jauh.

‘Ajak kita percuma, oh sungguh sayang.’, kata air.

‘Memang kamu mau mengajaknya apa sih?’, kata buih.

‘Entah, hanya sedikit bermain. Jika dia menyebalkan, tentu, akan aku makan dan buang ke pusaran palung dalam. Tapi, ah, tampaknya kita tidak akan pernah tahu, ya?’

Tidurlah

Kekasihku menguap

Tanda kurangnya asupan oksigen ke otak,

juga tanda mengantuk.

Jadi yang sedang duduk-duduk ini,

aku dengan baju tidur kimono yang disimpul dan rambut terikat tinggi,

kamu masih dengan kemeja kantor dan sepatu mengkilap yang temalinya sudah tidak jelas.

Hendaknya kita makan malam,

tapi sofa ini empuk dan kau hanya ingin merebahkan badan.

 

Maka sekarang kita disini

dengan kepalamu menjuntai diatas paha, kita berbincang.

Sepatumu sudah dilepas, tapi kaos kakimu tidak.

Aku menarikan jemari dikepalamu, menekan lembut ubun-ubun

dan perlahan-lahan melembutkan tempo serta ritme suara.

 

Kamu sekejap-kejap mengatupkan mata.

 

Maka, kekasihku,

 

Tidurlah.

Kamu sudah terbangun pukul 6 ini. Menyiapkan sarapan dan mengajak anjing ke luar.

Membuka tirai kamar dan membangunkan aku dengan lembut karena kepalaku pening.

Terlalu banyak alkohol tampaknya.

 

Tidurlah.

Kamu sudah berderu dengan mesin-mesin transportasi mekanik dan asap-asap riak pagi.

Juga bebunyian klakson atau sumpah serapah.

Untuk hanya duduk di meja 2 kali 1 dan menatap monitor.

 

Tidurlah.

Aku tidak tahu apa yang telah kau lewati selama 8 jam, diantara tugas kerja dan obrolan makan siang, rapat atau istirahat rokok sebatang.

Tapi sudah cukup 8 jam mu itu membuat lelah.

 

Tidurlah.

Kamu sudah melewati lagi drama jalanan untuk kembali ke rumah.

Berpeluh dan lecek, baju mu tidak lagi lurus dan rambutmu sudah turun menempel lekat di dahi.

 

Tidurlah.

Kamu sudah melewati banyak hari ini. Melampaui banyak.

Kamu sudah bicara banyak, berjalan banyak, dan bergerak banyak.

Otakmu sudah diajak berasap.

Mungkin hatimu juga jadi lelah melihat drama hari ini.

 

Maka, tidurlah.

Pahaku akan melayakkan diri menjadi sandaran kepala mu.

Juga tanganku akan mau meringankan berat kepalamu.

 

Tidurlah,

malam terlalu malam.

Tidurlah,

pagi terlalu pagi.

 

 

 

Aku harap semua temaram.

Berpendar segan pada malam.

Lidah api juga bukan menjilat-jilat, namun mengecup malas.

 

Aku harap semua temaram.

Tidak yakin bernafas pada malam.

Refleksi sayu dari berkas cahaya di mata.

 

Aku harap semua temaram.

Belum tentu hidup dan berada.

Seperti sisa-sisa dan tidak ada guna.

 

Kemudian aku harap semua gelap.

Pekat hitam.

Karena cukup lah pendaran segan ini.

Lebih baik dimatikan lalu kita tidur,

 

Who’s Gonna Be There at 2, darling?

I actually had this, long time ago and, just got this one done now.

At 2 am alone on my bed. 

With Lost In Love by SNSD on playing. Why? I don’t know. Just random scroll on my Spotify playlist.
So I just had a talk with someone who pretty much remind me of how I should face things I’ve been neglect for so long.

And longing of mine to actually engage with not a fling of summer, and actual settle engagement.

And damn, having such mind in such dawn, I wonder who I can reach for ease.

Who will I annoy easily open hearted.

Who I can call for not so sober me gibberish-ing about world.

To be easily presence without psychical existence.

To ease all.

To let me breathe.

For snuggle.

For warmth.
All engagement been thru either bland or a majestic failure. 

And in 2 I kinda feel all blue.

Who’s gonna be there?

Sebagai bentuk tanya dan retorika bagi Mu.

Look what this city has done to you, honey.

That blushed cheek but not because how heat of the sun hit it, that is way more reddish from the last time I see burst of your smile.
Your eyeliner is way too sharp it can kill a man, they said.
And what are those, strobing and higlighter? For pointing out that dimensions of your face?

Look what this city has done to you, honey.

You and your tumbler worth bucks which you just go to at 22 for trashy coffee?
And you seems not in comfort at that killing heels.
Geez you add almost a deci meter away from me in term of height!

Look what this city has done to you, honey.

You blink your eyes for times, I see that you use contact lense and that’s kinda make your eye watery, I suppose?
And I know how really damn good you are in a body con and now you keep pulling down thag too tight skirt down.
Your hand hold too many things. Keys and tumbler on your left, phone on your right.
And I see you switching from app to app, swiping left on Tinder and tapping twice on Instagram.

Look what this city has done to you, honey.

And let’s see before this city dissolve its poisoning breathe to you.
It might or might not be irrelevant but here I go.

I used to see you with mountain sandals and short with many pockets pant.
Well you do smear some lipstick and make your brow.
Sometimes I see you in dress and you burst in grace and sassyness in one entity.
With that glasses you go throughly from books to notebook at coffee book shop nearby, providing that squishy bean seat and CHEAP BUT GOOD BUT CHEAP, your favorite, Vietnam Drip.
You love to drive around town, during times with minimum notions.
And above all, honey, that glitz spark from your eye to the world.
As nothing can harm and rape your bliss.
Your genuine smile,
And heart full of passion and affection.

And look what this city has done to you, honey.

To pawns of metropolitan rapid pace rotation.

I hope you’re okay, honey.

My dear honey which reflection I stare from the hanging mirror of my room.

Sweet thee sound.
Of crashing solid iron of train rail – and minimum notion of the living.
Well,
It’s a night train so nothing much happen.
Sweet thee sound.
Of songs off from my phone.
Echoing beat or gentle rhythm of notes.
Delivering certain kind of lyrics and atmosphere,
And mood.
Today is just so unlucky me.
I tripped hard and make another bruises on my body. Weekend love to crash me with bruises – at club or accident.
I bought the wrong ticket and ALMOST saying bye to Jakarta.
Somehow I trapped and bought expensive shit that not a necessity.
Above all, along the thumping beat of train rail – and certain mood being delivered by my playlist, I’m in deep emotion of baby blue.
No not that kind of baby blue thanks.
Just certain feel of whatever passed and done leave me nothing but empty and none and sort of disappointment.
To all entities and moments.
To people around that being so stupid.
To all talks and sips and laughs with people.
To my own self to let me feel that way and letting things go under the skin.
Yeah I know baby blue is not a really good phrase to use as metaphor.
But,
Between the dark of night face and sudden random song played one record of random Tinder finding singing Paper Heart,
Baby blue is one I find the fittest of all.
For able drawing all this out of nowhere sudden shifting mind.
I’m sort of hard people to convince of trusting and all.
And as things start to get real I will in such form of denial and pushing everything.
Geez what even this thing.
Anyway, congratulations you just spend times of yours for nothing.

Longing to None

I have longing.

I always have longing.

And in current moments, my longing runs to traces of memoirs.

Collection of silvers and golds.

 

To one who pop up in front of campus gate

With reactive curse to traffic

Cigarrettes After Sex and Betwixt

& simple casual ‘What you’re up to’

 

To one with long silky hair

& ‘saya-kamu- refference

For random chilling stroll at sheer sunset

& rather night drive out

 

To one I have hard time to recall

With barely sober date

After midnight talks & late night drive outs

& minutes for just staying in a car

 

To traces of silvers & golds

To somehow chill and thrilling ride

For embrace and deep relates

With, well, fail ends

 

I have longing.

And my longing belong to none

Betwixt.

I will be still stand on certain loop of my life.

Some moments I will always favor to remember.

Not so late Wednesday ride.

And couple hours of talking.

Some sips of coffee.

And… Many moments of wonders.

Talking about life and wonders.

Job and simple stuff.

And 10 mins of night ride. 

From Cigarettes After Sex,

til Betwixt.

And man,

That was one delicate sheer kiss of night I will never ever able to forget.

‘I don’t think I can’.

Ever.

Man.

Wishing and longing of you going back and forth.

And not merely in romantical way.

Simply, a fun loop to hop in.

A tender 10 mins of ride.

Arti Rindu, antara Rumah dan Jarak

Halo, kawan.

Aku hendak berucap rindu, rindu sampai pelu kepadamu.

Sejenak setelah melihat tidak sengaja foto kita dulu.

 

Aku mencari namamu di kontakku.

 

Tapi aku ragu.

 

Aku sungguh rindu padamu.

dan kamu pun akan berucap jua rindu.

Lalu kita akan berbincang atau bahkan bertatap wajah jika kamu masih bangun pada subuh waktu kotamu.

Namun, terlintas sedikit.

Bagaimana definisi rinduku kalah kuat dengan rindumu.

 

Rinduku hanya padamu.

Dan waktu kita kala jarak belum memberi ruang pada raga kita kala itu.

 

Rindumu bukan hanya padaku.

Tapi juga rumahmu, temanmu yang lain, makanan, dan kasur dikamarmu.

 

Rinduku disini karena impulsif.

Rindumu secara legit selalu ada karena,

oh kawan,

kau sendiri di kota lain.

 

Yang kala siang tidak ada yang jual seblak.

Atau malam martabak.

Tidak ada kerungan mamah kalo kamu pulang malam,

atau teman-teman yang membuatmu pulang malam.

 

Aku ragu menyampaikan rindu.

Bukan meragu karena aku tidak rindu.

 

Tapi aku sungguh tidak mau, menambah pelu rindumu

Akan semilir hangat tropis kotamu dulu.

atau batagor yang mudah didapat.

Kerungan mamah

dan gelak tawa bodoh kita dulu.

 

Aku takut rindu yang akan kusampaikan padamu

Tidak dapat membalas rindumu.

Ps. I hope the blow of city breathe finds you well.

The idea of you and me,
us breathe the same city air excite me.

That when I walk down the pavement,
Or sipping coffee at some corner,
Or waiting for my bus to arrive,
Or simply strolling around,

I may cross path with you – left my stomach uneasy.
Nope I’m not pregnant just this nerve thingy.

And I wonder what will happen.
Will neither of us embrace how faith put it bless upon us.
Or will it just become a simple hello-goodbye?

Either way,
As I step in to this city,
I know

Being in the same space with you has got me thrilled.