Terbit setelah Djenar Maesa Ayu

Sudah pukul satu

Dan aku termanggu.

Pada lidah yang berpagut padu

Pada lenguh desah yang beradu

Pada lutut yang bertumpu

Pada jemari yang melagu

Pada tubuh yang bertemu

Pada mata yang tersipu

Pada wajah yang lugu

Pada jiwa yang merindu

Untuk hidup yang melucu

Dan jumpa kita melawan waktu.

Advertisements

have you ever meet someone

engage with them

and they make you feel some sort of way?

 

duh what am I talking about of course you have.

but this feeling can’t be express with emotions nor words.

you correlate them much with tunes and how it makes you feel.

 

I do. I really do.

Been thru that for past 1 and a half year and the set of the playlist had changed thru times

from what he ask me to take listen and my own discovery and how I relate to his presence much.

from Konservatif by The Adams and all.

to Soundcloud findings.

 

This particular set makes me feel some sorta way.

Of ease, pleasure, and wistful.

It almost tear me in every melody in a really blessful way.

 

So here I present, the Solitude

janji pada sebatang rokok

pernah kah kita membuat janji pada sebatang rokok,

setelah batang ini aku akan mandi?

 

atau setelah batang ini, aku akan tidur?

setelah batang ini, aku akan lekas berpakaian dan pergi?

pada sebatang rokok ini, aku akan berhenti merokok?

 

Aku, selalu. mengucap janji tak ditepati pada sebatang rokok.

sebatang jadi tiga

5 menit jadi 30.

dan seterusnya.

 

aku bersalah pada batang rokok.

dan ucap-ucap janji yang diingkar.

 

Tidak kah kita semua begitu?

Hanyut pada asap dan akitvitas mengisap dan menghembus.

 

Menyalahi waktu dan mendusta diri.

Janji pada sebatang rokok merupakan bentuk dari negasi diri.

 

 

Adegan Hollywood membuatku menangis.

Tidak kah kamu merasa sakit atau sedih setelah menonton film yang hebat?

 

Berbagai gambar dan frasa-frasa indah yang dilontarkan,

Skenario yang apik,

Adegan-adegan yang penuh romantisme,

dan kesadaran bahwa hal-hal tersebut hanya bentuk angan belaka.

 

Yang ditulis diatas kertas dan disalurkan melalui adegan demi adegan.

Ditambah padanan busana, cahaya, riasan, dan tentu, naskah yang memabukkan.

Tidak kah kita merasa senang dan ingin lompat masuk ke dalam imaji tersebut?

 

Di antara Paris dan hujannya.

Perjalanan di antara dua orang asing di kota yang tidak terlalu dikenalnya.

Buku dan catatan.

 

Tidak kah itu menyenangkan?

 

 

Sebut saja semua film yang hendaknya kalian ingin masuki.

Atau yang membuat hati berbuncah ria.

 

Aku sendiri, pada Before Trilogy dan Midnight in Paris.

 

Terlalu apik dan indah.

Dan pada setiap film dimulai, pada titik-titik tertentu, aku dengan jujur hendak menangis dan menitikan air mata.

 

Semua gambaran yang ditonton ini, semua indah ria yang melintas ini,

sang aktor dan aktris, busana dan padanan kota,

hanyalah ilusi.

 

Dan aku sangat terhisap pada ilusi tersebut.

 

Untuk dapat menikmati kota sendiri tanpa banyak kendaraan lalu lalang.

Atau adanya ruang cukup personal di taman publik.

Wajah-wajah orang asing yang tampak hangat.

Dan semua adegan palsu berupa ilusi yang mendampingi.

 

Terlebih, aku sangat terhisap dengan ide pada film tersebut.

Korespondensi dan relasi yang sederhana pada film Before Trilogy,

atau perbincangan dengan F. Scott Fitzgerald dan Salvador Dali pada Midnight in Paris.

SIAPA YANG TIDAK MAU?

 

Ide-ide ini merasuk dan membuatku melompat-lompat dalam pikiran.

Merasuk menjadi ingin.

Dan ingin menjadi luput mengingat realita sekarang.

 

Aku pernah ke Paris.

Museum Louvre memang sangat, cantik, sekali.

Dan aku tidak diberitahu betapa banyak manusia lainnya disitu.

Atau pedestriannya yang penuh dengan kedai-kedai kopi dan juga kendaraan yang parkir.

Lalu manusia lagi.

 

 

Nyatanya, semua adegan yang hendaknya aku ingin buat jadi nyata itu penuh taksa dan hanya ilusi.

Tidak akan ada ruang sendiri untuk bercumbu di taman kota

atau singgungan yang apik,

atau pertemuan dengan Dali,

tidak ada yang akan jadi nyata disana.

 

Dan karena realita ini, aku menangis.

 

 

“Apakah mungkin kita menghapus seseorang, Bu?

Membuang jejak ingatannya dan membuat jalin kenang baru tanpa eksistensinya?

Melepehnya layaknya permen karet usang yang habis dikunyah?”

Tertegun, Sang Ibu yang sedang merapikan bunga terdiam.

Bunganya sudah layu dan pasti akan dibuang.

“Tentu, sayang. Ibu hendak merapikan bunga ini, contohnya. Sedap malam semerbaknya memang wangi namun tidak abadi. Dalam 3 hari sudah harus diganti. Ingatkah kamu Ibu ajak ke pasar dan bunga yang melayu ini dulunya cantik dan tegak?

Airnya selalu Ibu ganti.

Tapi toh dia melayu juga. Dan Ibu harus menggantinya dengan yang baru. Seperti itulah. Buang saja kenang usah dan melayu, ganti dia jadi yang baru.”

“Tapi Bu, manusia bukanlah bunga. ”

“Memang bukan, sayang. Tapi untuk apalah menyimpan hal usang dalam benak yang tidak beranjak? Tidak ada guna.

Kau pikir, bagaimana Ibu melupakan dan membuang kenang ayahmu?”

Si Anak diam dan menatap bingkai foto yang tergolek diatas piano. 3 orang disana dengan 1 imaji terkoyak bekas peluru yang menembus.

Si Anak terdiam dan tersenyum.

“Jadi, jika aku hendak membuang kenang seseorang, aku tembak saja dia sampai mati.”

Mungkin yang Kurang dari Jakarta adalah

Kamu.

Akhir-akhir ini Saya lebih sering menelusuri Jakarta sendiri.
Berjalan kaki, naik Transjakarta, menonton konser, menyesap kopi, atau menegak bir.
Membaca buku atau menulis.

Dan diantara sesak padat yang disuguhkan ibukota ini,
entah apa, Saya sedikit bisa tersenyum seraya berjalan di kota ini.
Entah, apa.

Oh iya, imaji tentangmu.

Tentangmu dan rencana kita bertemu.

Dan aku sangat bisa membayangkan Jakarta yang sedikit kabur dibalik wajahmu.
Dan percakapan kita.

Antara matahari yang tenggelam dan gelak kita akan hidup yang melucu.
Atau klakson-klakson dan lampu jauh kendaraan malam dan kita yang tenang luput akan semua gangguan.

Hendaknya pertemuan denganmu, selalu, menjadi suatu bentuk melipir diantara sesak desak Jakarta.
Ya, imaji bertemu denganmu.

Yang salah dari Saya dan persepsi Jakarta adalah, selalu mencoba mencari subtitusi kotaku dulu yang mungkin tersedia disini.

Tapi tidak.
Sungguh, tidak.

Saya tidak pernah hampir diperkosa di kotaku dulu.
Saya pun biasa menyambangi bar terdekat dan tidak diganggu. Bahkan mengerjakan skripsi disitu.
Saya menyeduh kopi diantara sepi.
Saya merasa aman berjalan sendiri.

Tapi, kamu.
Tidak dapat Saya cari subtitusinya.
atau komplementer.

Kamu sebagai entitas yang satu dan tidak sampai hati Saya cari penggantinya.

Memang, Jakarta hanya kurang kamu untuk aku nikmati.

“Apakah mungkin kita menghapus seseorang, Bu?

Membuang jejak ingatannya dan membuat jalin kenang baru tanpa eksistensinya?

Melepehnya layaknya permen karet usang yang habis dikunyah?”

Tertegun, Sang Ibu yang sedang merapikan bunga terdiam.

Bunganya sudah layu dan pasti akan dibuang.

“Tentu, sayang. Ibu hendak merapikan bunga ini, contohnya. Sedap malam semerbaknya memang wangi namun tidak abadi. Dalam 3 hari sudah harus diganti. Ingatkah kamu Ibu ajak ke pasar dan bunga yang melayu ini dulunya cantik dan tegak?

Airnya selalu Ibu ganti.

Tapi toh dia melayu juga. Dan Ibu harus menggantinya dengan yang baru. Seperti itulah. Buang saja kenang usah dan melayu, ganti dia jadi yang baru.”

“Tapi Bu, manusia bukanlah bunga. ”

“Memang bukan, sayang. Tapi untuk apalah menyimpan hal usang dalam benak yang tidak beranjak? Tidak ada guna.

Kau pikir, bagaimana Ibu melupakan dan membuang kenang ayahmu?”

Si Anak diam dan menatap bingkai foto yang tergolek diatas piano. 3 orang disana dengan 1 imaji terkoyak bekas peluru yang menembus.

Si Anak terdiam dan tersenyum.

“Jadi, jika aku hendak membuang kenang seseorang, aku tembak saja dia sampai mati.”

Cemas Remas

Saya mengetik ini dengan jemari yang gemetar.
Padahal Saya tidak di tempat ramai.
Ataupun tinggi seperti Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang selalu dapat membuat Saya pusing setengah mati.

Kenapa?

Karena ini Jakarta.

Jakarta memiliki udara yang gila.
Pekat dengan asap kendaraan dan keringat.
Semburat urat jalan padat yang laknat.

Saya menghabiskan satu bungkus rokok di dalam satu malam.
Karena gila ini Jakarta.
Dan Saya perlu asap nikotin untuk membantu mengatur nafas.
Ditemani seduhan kopi atau botol bir.
Sendiri di kamar atau pojokan bar.

Pernah suatu ketika Jakarta membuat Saya merasa linglung dan tidak aman.
Padahal Saya menggunakan helm dan memiliki tujuan.
Sepanjang jalan Saya cemas dan ingin lompat saja.
Sampai tujuan Saya muntah.

Pernah suatu malam Jakarta mendorong Saya ke sudut.
Padahal musik dari konser sedang berdentum dan orang-orang lain ber ria mengikuti tembang lawas.
Dan tidak ada yang berniat menyakiti.
Tapi Saya kesulitan bernafas dan merasa aman.
Satu jam Saya memandangi Jakarta pada malam di pelataran parkir lantai enam.

Pernah suatu malam juga, Jakarta mencoba memperkosa Saya.
Saya yang sedang berada di lantai kelab malam ditarik ke sudut bersofa.
Saya yang berkali-kali berkata tidak dan menahan air mata.
Saya yang kemudian menangis histeris dan tidak sanggup tertidur tanpa merasa diri adalah sampah yang kota ini lepehkan.
Rasanya Saya lebih baik mati.

Namun, sering kali kota ini mengajak Saya bertemu persinggunggan yang epik.
Yang kala itu nyata namun sekarang taksa.
Di kedai kopi, Amigos, ataupun bar.
Sok baik hati, menawan, padahal bajingan juga.
Ada yang menyenangkan juga dan menjadi kawan.
Namun banyak, yang membuat tidak habis pikir dan menggelengkan kepala.
Yang mencoba berbincang saat malam dan mereka hendak meracap.
Gila.

Lebih sering lagi, Jakarta membuatku tidak nyaman.
Diantara ramai atau sepi,
saat pagi atau senja menampakan diri,
minum bir atau menyeduh kopi,
sendiri,
bersama buku ataupun catatan,
sudah ataupun belum makan,

Selalu membuatku cemas
Dan meremas tangan.

Ps. Yes, I have anxiety.
Dan tulisan ini sebagai ekspresi gelisah dengan sedikit cerita.

Kamu tahu?

Kematian adalah momen temporer.

Yang khidmatnya hanya sekejap, seperti lembayung pada transisi sore menuju malam.

Sekejap ada.

Sekejap berlalu.

Lalu mengaduh jadi abu.

Dan kita kembali berseteru,

dengan pekak pagi dan mabuk malam – perjalanan hari.

Maka, mengapa kamu menangis sayang?

Jangan menyusahkan riasan matamu.

Dan mendesak sakit dadamu yang pedih karena kehilangan.

Percuma. Absensiku ini, eksistensi sementara kabungmu, taksa.

Pulanglah. Makanlah nasi hangat dan tidurlah cepat.

Aku tidak akan hadir lagi mengetuk pintumu.

Dan pun beberapa hari lagi kau akan lupa rupaku.

Menyesap Petang Sore

Titik lupa.

Langit Jakarta berpendar jingga biru dan mataharinya tersesak pasak-pasak bangunan pencakar langit yang hendak berdiri.

Dan pada petang ini, khidmat,

pada desak-desak kerumunan komuter,

aku kembali menyentuh titik lupa pada Sore.

Yang kala itu menghabiskan waktu berjalan kaki menyusur Braga di Bandung.

Menciptakan sendiri percakapan ‘Before Sunset’ kami dan gelak akan jalan yang melucu.

Merajut tali laksmi akan warna torehan langit kotaku.

Menenun momen-momen nyata yang sekarang tampak taksa.

Menggenggam tangan melewati gundukan.

Menonton air mancur tanpa warna.

Menonton pemuda bersepeda bebas.

Membaca di Kineruku.

Berbincang di Zoe.

Menjalani hari tanpa batas waktu dan tempat.

Sekat-sekat yang terkadang membuat sesak.

Tanpa ujung.

Tanpa sadar.

Mengakses titik lupa membuatku senang.

Dan merindu.

Bukan rindu seksual dengan melucuti busana,

rindu dengan aku dan kamu hanya berjalan berbincang tanpa sadar matahari sudah tertidur.

Dan malam menampakan diri.

Akan segala sesuatu yang bergerak diantara kita dan kita hanya diam.

Menyesap eksistensi satu sama lain.

Jadi, Sore.

Saya sungguh menunggu jumpa kita lagi.

Naik ke gunung.

Atau ke Jogjakarta.

Atau kembali merajut di Braga.

Ucap Perpisahan, Dadah!

DADAH!

 

Jadi, saya berkeputusan untuk berhenti menulis pada blog dengan akun distraksidinihari.wordpress.com ini dan beralih ke akun yang belum jadi.

I want to rest my case here dan memulai menulis dengan hati yang penuh.

Dengan kategori yang benar,

dan ekspresi yang membuncah juga.

 

Untuk itu, hendaknya yang gemar berkunjung kesini, sila meninggalkan komentar atas satu unggahan atau pun atas akun ini secara keseluruhan.

Berikut informasi kontak surel untuk dihubungi : yoanoktvmar@gmail.com.

 

Selamat tinggal dan selamat jalan, semua!

 

To you. Oh, I’m sorry.

Your existence soothe me.

And your slow pacing kisses chill me to the bone.

If there’s more night to come, when the moon is high and lovers making love to clear sky and loud moan,

And when you don’t wanna leave yet,

I would like to promise you another great nights like this.

To hands lock on each other.

And neighbor knocking our door.

But above all, darling.

Your presence give me ease.

Says a girl to her lover shadow.

As he soon leaves the apartment and left the door open.

Creating space and whole apart.

Terkoyak

Aku mengoyak bajumu.

Merobeknya disaat hendak aku menahanmu pergi.

Dan tidak ada apa lagi yang dapat membuatku lebih sedih selain membuatmu semakin ingin lekas pergi.

Kemejamu memang sudah usang, dan kau membuat canda bagaimana akhirnya kau akan membeli yang baru.

Tapi ini kemeja favoritmu. Kemeja putih usang yang masih rapi kau gosok sampai ke ujungnya.

Dan selalu wangi aku cium.

Aku mengoyak kemeja putihmu.

Di antara perdebatan kita dan kegilaanku, entah, aku memilih untuk menahanmu dibagian kemeja.

Bukan dengan memelukmu seperti biasa sedia kala.

Dan semua akan baik-baik saja.

Aku menambah usik pada runyam kepalamu.

Aku sangat sadar itu.

Dan dengan kemeja putih yang terkoyak, semakin aku ditampar.

Aku membuatmu membenciku.

Aku menangis dan bertubi-tubi memukulmu.

Dan dengan kemeja putihmu yang terkoyak, kau memegang tanganku.

Belum pergi jua.

Tapi harus.

Karena bajumu terkoyak.

Sekarang kau pergi dan aku merasa sedih. Aku turut membasuh wajah seperti langit membasuh bumi hari ini.

Dengan warna abu tergulung dan penyesalan sudah mengusir matahari,

seperti aku mengusikmu.

Aku minta maaf.

Untuk semua dan kemeja putihmu yang terkoyak.

Terkata, Yogyakarta

Jadi Yogyakarta kurasa sama dengan Bandung.

Hidupnya yang di kala akhir pekan penuh dan penuh.

Tapi, Yogyakarta berbeda.

Entah karena jalanannya yang tidak se pikuk Bandung,

pedestriannya yang cantik dan cukup untuk 2 orang bertali tangan,

atau dia sebagai temali tanganku.

Saya percaya orang datang dan pergi.

Garis persinggungan hidup, siapa yang tahu?

Dan untuknya, persinggungan yang sedang dijalankan, mari berucap.

‘Maaf dan terima kasih’

Untuk 3 hari yang penuh kata.

Tak habis kita bicara – sampai menggunakan urat jua.

Untuk jejalan di jalur pejalan kaki

Di kota penuh kearifan lokal : Yogyakarta dan Salatiga.

Dan guyuran tangis kampung halamanku.

Serta rapalan doamu yang memanjat di makam pada langit yang berseri.

Hendaknya aku akan selalu mengingat di saat kita hendak tidur.

Rengkuh hangat dan cium kening.

Atau saat terbangun pagi.

‘5 menit lagi’ mu dan upayaku menggugah rayuanmu dari pulau mimpi.

Atau pada 126 kilometer perjalanan menuju riuh ombak pantai

Dan kulit belangmu (sudah kubilang, pakai krim tabir surya!)

Pada temali di tangan. Selalu.

Dan hadir mu dalam persinggungan ini.

Yang entah sampai kapan.

Tapi hendak selalu kuucap

‘Maaf dan terima kasih’

Ps. Zsa Zsa Zsu pada Prawirotaman.

Maaf, aku tidak mampu menulis tentangmu

Dia tertidur, agak mendengkur,

dan pulas.

 

Di sisi ranjang lain dengan seluruh selimut membungkus tubuhnya.

Seperti burito.

Tangannya tergolek ke luar rengkuh hangat pulau mimpi

lalu aku meraih dan mencium punggungnya.

 

Jarahan sinar matahari yang menerobos masuk dari sela-sela terlalu cantik.

Sangat cantik aku hendak membuatkannya prosa.

 

 

“Kamu lagi apa?”

 

Kekasihku duduk sambil menggaruk-garuk kelopak mata.

Kekasihku terbangun.

Refleksi laras sinar pagi dan tubuhnya menyemburatkan hangat.

Dan aku, terlalu jatuh cinta sampai aku tidak merasa.

 

“Menulis tentang sinar matahari,” kataku.

“Dan aku?” tanyanya.

 

Aku tidak pernah menulis tentangnya.

 

 

“Kamu tahu? Aku agaknya sedikit cemburu dengan badaniah wanita-wanita lalu yang dapat kau tulis setiap lekuknya.

Atau pada gugur daun di pekarangan kedai kopi yang kau temukan sangat menyentuh hati.

Atau pada langit dan sendu gila petang saat orang-orang hijrah kembali ke rumah, penuh dengan asap karsinogen dan sisa lelah kerja.

Aku cemburu.

Semua dapat kau tulis, hampir pasti kau sentuh dan kau kagumi eksistensi dan presensinya.

Tapi aku? Kau tidak pernah menulis tentang aku?

Am I even real in your poetic universe?” cerocosnya. Dia marah.

 

Terlalu nyata.

“Kamu, aku tidak mampu menulis tentang kamu.

Betapapun aku mencoba keras dan selalu menyusurkan jemariku, menari di wajahmu pada temaram malam dan bulan,

aku tidak dapat menulis tentangmu.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena tulisan ku ini tidak nyata. Selalu seperti angan dan kabut pagi yang bias adanya dan tidak dapat aku sentuh. Tapi kamu disini, terlalu nyata untuk aku cium.

Tulisanku itu tulisan-tulisan mimpi. Buah-buah dari ketidakmampuanku. Surreal.

Dan… Manifestasi sekelebat cecaran di otak.

Tapi kamu nyata. Senyata kemarahanmu sekarang.

Aku tidak tahu kenapa, aku tidak dapat menulis tentangmu.

Agaknya aku menjadi pengecut dan takut jika aku menarikan kata tentang dirimu,

kamu akan menjadi asap dan kabut yang hilang setelah pagi tidak lagi bersahabat

dan langit menjadi terik. Aku akan jadi tandus dan kering.

Kamu terlalu nyata.

Dan aku terlalu takut untuk menuliskanmu sebagai mimpi dan kabut.”

 

 

Matanya memancarkan ketidakpercayaan dan kebingungan.

Dia bergegas menggunakan pakaian dan mengambil kunci mobil.

 

Tanpa sepatah kata, dia pergi dan deru kendaraan sudah menandakan berapa jauhnya dia dari rumah.

 

Matahari sudah tidak menarik lagi.

Juga sayup kecup angin pagi.

 

Aku menangis tanpa air mata.

Memaki inkapabilitasku dalam merajut kata dan tentang subjek cinta.