I like the French Style

It was about 8.

I sat alone, sipping a cup of coffee and reading this new book I have.

And then you came. All tall and suit and tie.

 

We only have beer, one for each and bottle it up til the store close.

Cheap beers over talks – much I miss taste of good quality booze. And remembering that once gin tonic feels great!

“I can make that.”

 

So here we are, at your apartment room. 35th floor.

Where city provides it’s light and motion of its breathe.

Sudden suffocation of its beats.

 

Sexual Healing on playing.

 

I turn my head and you’re still making that gin tonic.

2 fancy glasses in front of my eyes – and lo-fi echoing the room.

I scroll the books store at your shelf you have.

You read Paulo Coelho much, huh?

 

Please, seat.

 

Smokes merely there, you ask me to open the window.

And we talk while sipping good quality of booze.

You got mad as I compare that fine wine smells with vodka.

 

The alcohol starts to kick in.

And I tell you I’ll go as soon as I sober up.

 

A firm hand grip me

Pull me closer

To beating heart layer with white shirt and suit.

And closer.

To lip which resonance the vibe of night tune

 

I call your name

Lot and lot

As midnight swift to dawn and turn my city to it deep sleep death

 

Advertisements
Categories Xx

Come Back to Bed, pretty please?

Come back to bed.

And let’s never leave.

.

Let’s never put on underwear ever again.

And shiver due to morning shower.

.

Let’s never take bus at 7 for work at 8.

And making coffee shot to jump off your morning.

.

Let’s never wonder what for lunch.

And food coma aftermath.

.

Let’s never leave the bed.

Let’s do it all over again what we’re just finish.

Let’s eat on bed.

Let’s roll to each other.

.

Since I’m still wearing your work shirt,

I won’t let you leave.

You have no permit to leave the bed.

And, you can’t.

Categories Xx

Shia LeBouf said so

Around this time :

 Start smoking. Quit smoking.

Spend time with people or embrace being alone.


Drive around town, stay at home for straight 3 days.

Drink vodka. Eat healthy.

Go cycling on Sunday or junk food binge.


Go to a club. Kiss stranger.

Take shot from stranger.

Go to a book shop.


Do anything, wherever your feet taking you.

Whatever morning breeze whisper you.

Your heart lead you.


Do bad, lose yourself a bit.

But never be stupid.

Be as wild yourself God let you.


Cut some people out from your life.

Sign up for Tinder.

Whatev.


In the end, you know what matters.

Value of right or wrong.

How much you can contain.


So just do it.

It is settle. I will marry my Spotify Playlist.

They always accommodating in many way.

Thru night full of despair, cry and chocolate, lust, and distressed.
They always be fun companion thru everything.

Morning, day, and night.

Bed, office desk, and strolls.

They’ll be there and present. And echoing it melodies of its fittest.
Damn.
They are all in one package.

I mean, Zhu, The Internet, and Tender.

Radiohead and Red Hot Chili Peppers.

Copeland. Flight Facilities.

FUCKING MIGUEL. FREAKING MIGUEL.

Sometimes Drake. Other times, Jhene Aiko.

And random Weekly Playlist.
WHO WON’T FALL FOR SUCH??
Ps, I’m just roaring my perfect hubby out loud to y’all. You may here but SURELY, you can’t TOUCH THIS BITCH THIS IS MINE. FREAKING MINE.

Hopeless Romantic

Sudah pukul 8 di Zoe.

Dan tidak ada hela pada kata-kata semenjak matahari mengantuk dan mengatupkan mata.

Kita sama-sama menatap transisi petang menuju malam. Dengan jalan Bandung terhampar dan langit temaram berpendar di bumbungan.
Dia bicara tentang Fisika Quantum, Aljabra, dan irisan antara Agama, Filosofi, dan Ilmu Pengetahuan untuk dipergunakan mempenetrasi ide-ide bodoh seperti ‘Bumi Datar’.

 How thoughtful!


Tangan saya gatal. Saya ingin membuat perahu kertas.

‘Kamu ingin tampak seperti karakter di buku itu ya?’

Lalu saya tergelak. Aksi saya tanpa ada penetrasi eksternal. Tangan saya tidak bisa diam dan satu-satunya yang saya bisa lakukan, agar tetap dapat menatap lurus matanya dan mendengar tiap padanan hurufnya, adalah dengan seni melipat kertas. Saya tidak mungkin menulis.
Jadi saya membuat perahu kertas.

Dan membuat pula satu lagi dengan ukuran mikro, yang bisa disematkan di kuku!

Dia menyukai kuku. Dia fetish terhadap kuku. Dia kagum terhadap kuku ungu saya.
Kami bicara tentang bagaiman norma patriaki di dalam situasi tertentu, menjadi pola yang dipergunakan sebagai capital untuk mendapatkan subjek manusia lainnya, dan bagaimana subjek manusia lainnya terkadang mengeruk ketersediaan capital yang diberikan. Dan garis-garis norma wajar menjadi bias di kala kami keruk lagi.
Kami menelusur.

Bagaimana sudah lewat satu tahun dan kami ada. 

Melalui jumpa yang tidak sengaja – dan muncul lah ‘serendipity’ disitu, atau pun janji yang terlewat. Dan yang katanya perang dingin. 
Lalu dia bilang.  How he cherish all events we’ve been thru. Because all that are – simply, spontan and unplanned. 

Dia bilang, dia sangat bahagia bertemu saya di Kineruku waktu itu. 

Dan dia menorehkan centang pada daftar hopeless romantic skenarionya. 

Sambil tertawa dia bilang, betapa dia adalah hopeless romantic.

Bagaimana perjumpaan yang tak terencana, teruji oleh waktu, dan di beri limitasi, menjadi kisahan sempurna yang disadurnya dari salam satu film kesukaannya.
Kami membuat rencana. Dengan sepeda, pantai, dan bersapa melalui surel.

 He consoled me.

He is another realm of the universe indeed.

 And I told him so.

Dia hendak mengganti kontak saya menjadi ‘Lava Girl’ karena rambut saya yang bewarna cerah ini.

“Menurut kamu, bagaimana rambut saya?”

“Saya hanya kuatir kering. Itu saja. Dan padu padan dengan kuku serta jam kamu, bagus. Baik.”
Dan saya tersenyum. Sepanjang jalan saya tersenyum.
Ps. Terima kasih untuk Beng-Beng dan air mineralnya!

Selalu Bisa Berprosa di Perjalanan Kereta

Aku berada di sisi kereta yang salah.

Hari ini aku hendak bertolak ke Bandung.

Pada pukul 18.01 kereta mulai bergerak,

dan langit tetap disana.
Menjadi tempat bangunan-bangunan bercakar.

Canvas untuk awan-awan bergulung.
Ruang luas untuk insan-insan bergerak.
Sudah pernah kubilang, langit Jakarta warnanya selalu cantik.

Kali ini berpendar jingga menuju ungu,

dan torehan tipis awan yang segan.
Dan sentimen itu.

Rasa langit Jakarta yang selalu ditinggalkan pada raga-raga yang melayang, menerawang jauh ke badannya yang membentang.

Ditambah lagu-lagu sendu menyisir jejalan rel ini.

Oh, langit Jakarta.

Entah langit mu yang tampil cantik di Jakarta,

Atau Jakarta yang membuat langit tampil cantik.

Sentimen Konservatif

*lagu Konservatif – The Adams terdengar mengalun*

 

Memang, Jakarta sedang menghembuskan angin yang kencang-kencangnya.

Pula, meniupkan jejak ingatan dan rasa kepada siang.

Kala waktu dan ruang tampak tanpa ujung.

 

Tanpa henti.

 

Sentimen yang dipedengarkan lagu ini sangat lembut.

Menarikan jalan kala senja oleh Sore.

Dan wajahnya yang berkilau dari refleksi berkas cahaya matahari.

Lekak lekuk trotoar Braga, angin, dan bicara,

semua seperti tanpa ujung.

Tanpa ada hari esok.

Ruang dan waktu berputar di dimensi yang sama.

 

Terus.

Dan terus.

 

*musik terhenti*

Dan aku terbangun.

Sedang duduk menggenggam kopi di teras rumah.

Lagu Konservatif sudah berhenti.

Dan loop kala senja tentang Sore sudah pudar.

Luke Warm Water

It’s been a long day.

She woke up a little too late this morning.

Her room is a mess when she left for work.

 

She didn’t even put her brow right!

 

Phone call rush as her sat on her chair.

Oh, it’s starting. The works mode hectic.

Zombie mode.

 

At around 4, she got a phone call. From a guy that she would see for dinner.

“Yup, you can pick me up at 5. Okay, see you!”

 

Gentle rain started to pour in.

And she’s unwind. For these past days, months, and years.

*sounds of click and car door closed*

 

“Whoa, you are so soaked. Sorry for being late. Shall we?”

As she looked down to her shirt and skirt with some discolored stain of wet.

Wondered how she become this wet. She only stands for a bit under the grey clouds, tho.

 

Merely aware her whereabouts.

Still shiver and cold. Hot ocha doesn’t help.  Sushi cheer her some bit of time.

 

“Drop me here. It’s okay, I will order Uber here. Yeah thanks!”

 

*sounds of click and car door closed*

It wasn’t so far to her flat. She started to walk and soaked even deeper with pretty rain pouring out. Blurring her gaze.

 

clicked.

sounds of door open and close.

 

She undressed, tossing all her bag and shoe towards any direction.

Grabbed a towel, rushing in to bathroom.

 

And set the heater to luke warm temperature.

She dwell and sway of ticking water that hits the bathroom floor.

Moving as small sort of rain ask her for a dance.

Leaning herself to wall.

Heading her face upwards and embracing drop of water.

 

Mesmerize by luke warm water, she’s alone.

 

Categories Xx

Tentang Bulan di Jakarta

Lagi-lagi kamu, Jakarta.

Tampak dari Bulan yang kali ini hendak aku prosakan.

 

Sejak senja datang, aku sudah mengagumi Jakarta.

Kamu tahu benar itu.

Jingga dengan torehan biru-nila,

dan pendaran nanar matahari yang dilahap ufuk;

semua perlahan menjadi gelap.

Semakin gelap.

 

Sampai Bulan muncul di langit yang luas.

Menjadi canvas dan panggung – untuk bintang utama.

Yaitu Bulan.

 

Bulan di Jakarta selalu besar dan indah.

Di kotaku, tidak pernah Bulan selalu senyata ini tampaknya tiap malam.

 

Besar dan bersinar remang.

Berpancar bagai pemeran utama.

 

Entah. Bulan terlalu menyilaukan dan menarik.

Layaknya seorang pria tinggi dengan tatapan mematikan yang hendak melahap.

Dan tampaknya, aku menyukai itu.

 

Bulan berpendar beda di Jakarta,

dia lebih dari penanda malam sudah tiba.

Bulan tampak seperti ingin mengajak ku berdansa.

 

Mendatangi setiap kafe atau lounge yang ada.

Atau menari dan sedikit mabuk di lantai dansa.

 

Atau membaca.

 

Bulan di Jakarta

tampaknya sedikit gila.

 

Aku ingin melakukan semua.

Ideas that make me happy :

  • Opening new book and writing my initial and date of buying at first page
  • Going back home with public transportation and ultra bass headset banging my new Spotify Playlist
  • Unlock my bra
  • Burn aromatherapy candle
  • Before sleep masker routine
  • Writing all your shits and respective plan or life
  • Wave of thought and ideas
  • Embrace and hug my dog as soon as I open my home door
  • Respective well organize to do list

Most of all, actually doing it.