Untuk tidur, atau tidak tidur.

Sudah pukul satu.

Lewat tengah malam.

Dan nafas-nafas entitas malam menyaur pada waktu.

Suara tetes-tetes air keran yang tidak diputar sempurna meriak dari wastafel.

Pun dengkuran rendah air conditioner.

Dari sudut kamar, ringan nafas anjing terlelap tidur memeluk diri, berpacu dengan jantungnya, menjadi ritme penanda satu detik pengganti jam dinding.

Entitas lain juga belum tertidur.

Dengung lampu taman komplek yang stagnan menganggu masih terngiang. Duh.

Sesekali lolongan anjing dari rumah diujung bisa terdengar juga. Berteriak lemah meminta makan, atau mencari perhatian.

Jika beruntung, ketuk benda tajam Pak Hansip pada tiang listrik akan menjadi efek kejut dari gerak statis pengunjung malam.

Semut-semut masih bergerilya, bergerak menanjak meja dapur untuk remahan kue sisa makan malam.

Angin masih mendesah meniupkan hawa dingin, menggelitik kulit yang diciumnya.

Beberapa lampu halogen kendaraan masih berpendar di jejalan, rodanya berputar bergerak menuju tujuan.

Tampaknya pun, jiwa-jiwa muda haus bunyi jedak-jeduk baru saja menginjak kaki pada lantai dansa dengan sedikit mabuk. Atau terlalu mabuk.

Sepertinya Aku harus mengevaluasi kembali malam ini. Pada pukul satu, di waktu, apa kah ikut terlelap beristirahat raga, atau,

ikut saja gegap gempita entitas malam dan dinamikanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s