Hopeless Romantic

Sudah pukul 8 di Zoe.

Dan tidak ada hela pada kata-kata semenjak matahari mengantuk dan mengatupkan mata.

Kita sama-sama menatap transisi petang menuju malam. Dengan jalan Bandung terhampar dan langit temaram berpendar di bumbungan.
Dia bicara tentang Fisika Quantum, Aljabra, dan irisan antara Agama, Filosofi, dan Ilmu Pengetahuan untuk dipergunakan mempenetrasi ide-ide bodoh seperti ‘Bumi Datar’.

How thoughtful!

Tangan saya gatal. Saya ingin membuat perahu kertas.

‘Kamu ingin tampak seperti karakter di buku itu ya?’

Lalu saya tergelak. Aksi saya tanpa ada penetrasi eksternal. Tangan saya tidak bisa diam dan satu-satunya yang saya bisa lakukan, agar tetap dapat menatap lurus matanya dan mendengar tiap padanan hurufnya, adalah dengan seni melipat kertas. Saya tidak mungkin menulis.
Jadi saya membuat perahu kertas.

Dan membuat pula satu lagi dengan ukuran mikro, yang bisa disematkan di kuku!

Dia menyukai kuku. Dia fetish terhadap kuku. Dia kagum terhadap kuku ungu saya.
Kami bicara tentang bagaiman norma patriaki di dalam situasi tertentu, menjadi pola yang dipergunakan sebagai capital untuk mendapatkan subjek manusia lainnya, dan bagaimana subjek manusia lainnya terkadang mengeruk ketersediaan capital yang diberikan. Dan garis-garis norma wajar menjadi bias di kala kami keruk lagi.
Kami menelusur.

Bagaimana sudah lewat satu tahun dan kami ada.

Melalui jumpa yang tidak sengaja – dan muncul lah ‘serendipity’ disitu, atau pun janji yang terlewat. Dan yang katanya perang dingin.
Lalu dia bilang. How he cherish all events we’ve been thru. Because all that are – simply, spontan and unplanned.

Dia bilang, dia sangat bahagia bertemu saya di Kineruku waktu itu.

Dan dia menorehkan centang pada daftar hopeless romantic skenarionya.

Sambil tertawa dia bilang, betapa dia adalah hopeless romantic.

Bagaimana perjumpaan yang tak terencana, teruji oleh waktu, dan di beri limitasi, menjadi kisahan sempurna yang disadurnya dari salam satu film kesukaannya.
Kami membuat rencana. Dengan sepeda, pantai, dan bersapa melalui surel.

He consoled me.

He is another realm of the universe indeed.

And I told him so.

Dia hendak mengganti kontak saya menjadi ‘Lava Girl’ karena rambut saya yang bewarna cerah ini.

“Menurut kamu, bagaimana rambut saya?”

“Saya hanya kuatir kering. Itu saja. Dan padu padan dengan kuku serta jam kamu, bagus. Baik.”
Dan saya tersenyum. Sepanjang jalan saya tersenyum.
Ps. Terima kasih untuk Beng-Beng dan air mineralnya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s