Feminisme dan ‘Yaudah Kalo Gitu Lain Kali Angkat Galon Sendiri Ya’

Saya percaya dan mendukung kesetaraan gender.

Upah kerja yang sama, perlakuan adil dan merata, bahwa ada pria yang juga dilecehkan oleh wanita dan bahwa wanita juga capable dalam memimpin.

Saya percaya dan mendukung kesetaraan manusia.

 

Tapi beberapa orang tampaknya memahami atau bahkan memperjuangkab kesetaraan gender dengan dangkal. Yang dalam bahasan ini, ranah saya hanya sebatas ‘pemahaman’ tidak sampai ‘perjuangan’ extent, because in this particular issue I have experienced and thoughts on.

Saya pernah semasa SMA sedang berbincang mengenai hak wanita & empowerment (bahasannya tidak setinggi ini tentu, hanya ngobrol random kala perpindahan mata pelajaran namun topik perbincangannya seputar itu). Perbincangan mulai panas kita saya lebih speak up di ranah ‘wanita’ dan kemudian, lawan bicara pria saya melontarkan kalimat :

“Yaudah, kalo gitu lain kali angkat galon sendiri ya. Jangan minta tolong.”

Wow.

Just wow dude.

Saya terhenyak.

Dan respon saya kala itu yang ke triggered, “Oh oke gue bisa kok.”.

Aduh, kawan.

Setelah sekian lama baru saya sadari betapa dangkal pemahamanmu dan saya kala itu.

Bukan berarti ketika kami mengutarakan dan mengupayakan kesetaraan gender kamu menghibahkan ‘satu-dua tugas’ kepada kami karena kamu merasa hal itu lekat pada gendermu thus other party should not take advantage of it because fuck you just demand to be superior hence I give you your ultimate superior, noh ambil. Dan sekarang jika dihadapkan lontaran yang sama saya akan menjawab ‘Oke, kalo gitu lo yang hamil 9 bulan dan lahiran ya.’. Let’s see how I can get this blunt.

The idea is, both women and men should be treated equally tanpa embel atau fitur konstruksi sosial yang menempel.

Pria itu baru sejati jika bisa reparasi segala hal di rumah.

Wanita idealnya pintar masak.

Pria tidak boleh menangis karena showing emotions decrease your man-ness.

Wanita kalo memimpin suka emosian makanya kurang reliable.

Dan lain-lain.

 

Menyambung pembahasan sebelumnya, mohon dipahami bahwa secara umum dan biologis dan science fisik wanita dan pria berbeda. Women got vags and men have dicks. Wanita mungkin ramping dan ber rasio ajaib untuk dapat menggunakan heels dan pria mungkin memiliki lebih banyak otot yang ter-develop di bisep dan trisepnya. Ada yang secara umum dilakukan oleh wanita ada yang secara umum dilakukan oleh pria karena konstruksi fisik.

Tapi disini sekali lagi jangan dangkal memahami kesetaraan gender. Kesetaraan gender bukan transfer kemampuan fisik ataupun biologis antara pria dan wanita kemudian menjadi imbang atau sama ya.

Tapi bagaimana wanita dan pria dipandang sama sebagai manusia. Saya sebagai wanita yang mampu mengendarai mobil itu manusia, bukan ‘Anjir yang bawa pasti cewek rese deh.’, saya adalah manusia yang memiliki Surat Izin Mengemudi dan mampu mengemudi. Dan pria yang salon atau tempat perawatan wajah ‘Ih cowok ngapain kesini metrox deh atau jangan-jangan…’, dia adalah manusia yang memiliki kulit dan wajah yang mau dirawat. Just normal people doing normal things, right?

Dalam segala tindaknya yang terkadang in some extent dipandang kurang sesuai dengan norma yang ada, pria dan wanita adalah manusia. Tanpa embel menempel.

Sesimpel itu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s