Ini Post Bakal Panjang & Story of my Withdrawal from Social Exposure.

Hi!

So it’s 12:48 a.m. when I start to type random thoughts of mine on after midnight so… Ya salah sendiri juga sih pelor banget (nempel molor). Inget banget lagi mau nyuci make up brushes terus ‘Ah main 2408 dikit sambil tiduran won’t hurt’ berakhir tidur bangun jam 7. Bangke why me so pelor?

Ya I have insomniac, sometimes it’s so severe that I sleep on 3 or 4 and just rolling on my bed. Akhir-akhir ini kalo insom suka nonton BuzzFeed, eh selalu deng, dan Suhay Salim. Itu cewek deh ya bangke dah keren amat make upnya mialoh, lucu dan apa adanya, I fan girling her much!

Til the point I realize that I should shut this thing. Gak baek.

Thus I try to find ‘habit’ to help me fall asleep. Baru sekali doang di apply sih hence kagak tau juga manjur atau nggak but this night habit akan sangat membantu gue dalam menambah pengetahuan and fulfil my needs and hunger of thoughts.

  • Baca 2 article news. Kemaren gue baca The Economist sama The Jakarta Post. The Economist tentang WannaCry dan TJP tentang penambahan suplai aftur untuk lalu lintas penerbangan di Kalimantan due to Ramadhan sebentar lagi~. Anjir mantap gue merasa cerdas. Nggak deng biasa aja but it is indeedly important to keep on update and get yourself knowledge about what’s going on. Some people read news in the morning while sipping their coffee but not for me. Buka mata aja susah apalagi suruh nyerap informasi. Btw ngomongin kopi, I start to cut my usual coffee : 2 tea spoon of sugar and dozen of creamer (bahkan dikasih susu lagi if I served it cold) to plain black. Both in morning and night. For sake of my own health, my mom has diabetes and so it’s been said that’s it’s good to pump yourself in morning and lose some pounds.
  • Read some pages of your current book. Kalo sekarang gue lagi mencoba move on dari Khaled The Kite Runner, anjir itu buku bagus banget ya I cry a lot cirambai parah. Saking bagusnya gue butuh waktu sebelum memulai lembaran baru. Nah lembaran baru gue sekarang Aleph by Paulo Coelho. Ini juga bikin cirambai dikit sih, like there’s this sentence yang cukup representatif dan menyentuh kesadaran gue tentang what condition I’m up to to this certain issue, sampe gue tandain pake post it.
  • Then, read an article on thoughtcatalog or EliteDaily. Menye banget ya haha bodo, beberapa artikel menye-nya itu memberi gue horizon dan pemahaman baru for my personal thoughts. One article yang gue baca kemaren sangat, sangat, menyentuh satu isu yang gak gue sadari gue hadapi and it told me to embrace it, sadari eksistensi isunya, dan be okay with it karena gue sadar ada perdebatan dalam diri gue sendiri juga terkait isu ini. Isu apa? Ada deh. Hehe rese ya.
  • Snacks and beverages! Biasanya gue ditemani kopi yang sudah ini itu, sekarang plain black, Chitato, air putih di jug atau infused water. Dan Kiranti. Lately period gue rese banget I barely stand up. Jahat banget hormon estrogen gue emang. Sebenernya pengen nambahin buah sih. Gue suka pisang tapi sesuka itu sampe bahaya sesisir bisa habis sendiri. I’ll figure it out.

That’s my habit I try to make and hopefully help me to tuck me sleep.
BTW news flash gak penting. I used Tinder kan, terus ada aja yang nge add Line gue gatau dapet darimana dah itu bilang dari Tinder. Gue ngerasa nggak ngasih kontak dan please people, kalo mau ber-relasi gunakan norma dan common sense. Perkenalkan diri dan representasikan diri sebagai dependable stranger, jangan tetiba aja gitu kan emang freak ya jadi tambah freak. Ya emang platform cem Tinder may lead to such nah kalo emang mau kenalan mbok ya tolong gitu. Mksi.

 

Nah sekarang, about my current behavior.

 

As you may or may not know and realize, gue menarik diri dari segala eksposur, terutama eksposur sosial yang ada. I shut and deactivate my Instagram and Facebook, whether barely available and exist on Line nor anywhere else, and changed my Display Picture to solid black color. And there’s a reason for it.

Kemarin, like around 2 weeks ago I was so unstable and vulnerable dikarenakan satu kejadian that happens around 2 weeks ago. Sampai gue memilih untuk tidak ‘hidup’ di platform media sosial. Bahkan gue sempet nulis beberapa post yang memang menggambarkan betapa gue sangat tidak stabil dan vulnerable.

Huft. I even struggle at this instant moment whether to write it or not.

Huff. Breathe.

I think I should for the sake of letting it go dan semoga memberikan pemahaman dan empowerment to anyone reading this (duh kalo ada yang baca Yo pede amat dah).

I almost got rape.

Kejadiannya sekitar 2 minggu lalu, gue lagi di Jakarta dan hangout sama temen-temen gue that some baru gue kenal sehari sebelumnya dan bahkan hari itu. Alcohol bring people to togetherness emang ya. And they are all fun companion!

Jadi kita habis dari suatu bar di Cikini dan memutuskan untuk all night out karena the night is still young, we decided to hit a club. Club apa dimana gatau karena I even barely sober. Sorry not to sorry that I love alcohol. Alcohol love me too.

Epicnya adalah kita ke club dangdut gitu. INI EPIC BANGET HAHAHA ingetnya gue ketawa. Lagunya lucu banget anjir, ya nggak ekstrem Dangdut Pantura All Hits Collection sih cuman remix nya ya remix dangdut gitu, inget banget gue ada Insomnia Craig David remix gue ngakak and dance to it.

Namanya juga club. Liquors and ciggaretes flowing and also one-two acts.

Di titik ini gue struggle untuk cerita detail atau glance nya aja. Because frankly it still give me fear and tear.

Oke skip detail.

As the night goes I ended up bersama satu pria ini. Dan seperti yang udah gue katakan sebelumnya, he tried to apa pun yang gue sebut diatas. I even cannot type that words.

Sadar, gue gather up myself dan pergi ke meja gue dan temen gue minta untuk leave the place immediately. When they ask why I only can cry. Sepanjang jalan gue hanya bisa sesegukan.

Di saat udah sampe safe place pun, di saat gue udah diatas kasur dan udah half asleep, when the darkness go all around my eyes gue langsung nggak tenang, meracau, dan nangis. Gitu terus sampe capek dan akhirnya ketiduran.

Besok paginya, kepala gue sakit karena hangover. Beberapa kali gue bangun dan mencoba tidur tapi masih sama, gue meracau dan menolak tidur. Gue baru bisa function pas siang menuju sore karena too much sleep aja dan blader needs. Itu pun gue masih straight cry. Dan tidur lagi sorenya.

Dan malemnya, setelah akhirnya gue makan dan mencoba functioning, di saat malem mau tidur, gue kayak orang gila. Literally. Gue menolak tidur, ngigau sendiri, dan nangis. Karena setiap gue nutup mata, flashing the pictures of last night memories. Gue gatau harus merasa seperti apa, harus berfungsi kayak gimana, dan besoknya gue ada 2 wawancara kerja. Di hari besoknya, there were some cringe moments kalo gue keinget malem itu and I shed some tears.

Gue tau gue harus cerita. Gue gatau ke siapa. Sahabat2 gue where I used to run into to share all my dark secrets and Geboy Mujaer video atau mention di sarcasm_only sedang ada satu dua hal and I don’t want to bother them dan membuat mereka khawatir. Bahkan gue gatau apakah gue akan cerita, banyak struggle. Akhirnya gue cerita ke sahabt cowok gue yang tau seluk hidup weekend gue gimana dan biasa I run into untuk hal-hal bodoh yang gue lakukan karena gue tau gue harus cerita tanpa butuh respon atau support. Gue butuh dinding aja dan dia adalah dinding gue.

So I told him. Tapi gue gak feel relieve karena ternyata, jembatan pertanyaan dan cerita gue gak link aja. Dan dia merespon yang tidak sesuai dan tidak gue butuhkan waktu itu. he said that’s my consequences.

And I lost my self. Gue agak kecewa sama dia karena stating so, dan gue marah sama diri gue karena it was right. Gue juga merasa lebih shitty dari sebelumnya.

Di hari-hari berikutnya gue masih belum bisa menjadi sepenuhnya manusia hence I seek for professional help. Gue mengontak Lentera ID dan mengatur waktu berbincang. I know I need to speak about it.

Jadi satu-satunya waktu kosong kala itu adalah waktu gue mau balik ke Bandung, gue lagi di Gambir inget banget di Starbucks dan akhirnya gue ditelfon oleh Lentera.
Disitu gue cerita. Detail dan cirambai dan apa adanya. Dan sakit. Karena gue sudah melewati hari-hari dari malem itu, banyak yang gue deny dan bisa keluar disaat gue cerita, banyak ternyata hal yang belum gue ungkapin dari kejadian tersebut, dan tumpukan feelings yang akhirnya tumpah aja.

After that, I got so much better. Gue mulai tau what to do to function again, gue tau salah dan betapa beruntung gue bahwa it wasn’t happen walaupun dampaknya cukup besar yang diberikan. Gue mulai sadar dan bangkit.

Dari kejadian diatas gue mau point out beberapa hal.

  • Kalo ada temen lo yang baru saja mengalami kejadian assault kayak gitu, apapun backgroundnya (misal cem gue yang emang sering clubbing dan suka minum and else) JANGAN VICTIM BLAMING. Jangan. Jangan bilang ‘Salah lo sendiri lo suka clubbing kejadian juga kan’ atau ‘Lo sih reckless ah’. Itu, in my point of view, victim blaming. Seperti ada orang nyebrang kala lampunya kuning terus ketabrak. Yang perlu lo lakuin adalah pastikan dia selamat dan cukup sehat untuk lo nasehatin ‘Kamu nyebrangnya salah seharusnya pas lampunya merah’. But foremost, tidak kah disadari bahwa sang pelaku yang sebenarnya memegang peran penting? Bahwa dia yang istilahnya memiliki kapabilitas dan kesadaran penuh untuk melakukan ataupun tidak melakukan hal tersebut?
    Dan karena after effectnya bahaya banget. Di kala dia dateng ke lo dia nggak perlu lagi di point out kesalahannya, itu masalah nanti dan bukan yang dia butuhkan. Di saat dia dateng ke lo, dia cuman butuh kuping dan kasur untuk tempat numpahin. Sulit loh memutuskan untuk cerita, which mean disaat dia dateng ke lo, dia percaya sama lo untuk dapat kalo tidak membantu ataupun mengatasi, menjadi safe place dia untuk cerita. Dan saat lo mengungkapkan hal seperti itu, believe me, membuat victim merasa lebih down dan shitty. Jujur setelah temen gue bilang gitu gue bingung dan kalut banget dan mempertanyakan adakah kepentingan gue untuk tetap hidup sepersekian detik. Dia mungkin salah, betul, tapi dia victim.
    So if you face such thing, pastikan teman lo berada di lingkungan yang aman dan dalam kondisi baik, suruh minum dan bernafas dalam, dan jadilah dinding kalo lo memang nggak bisa bantu. Bantu cari professional help untuk di assess secepatnya juga.
    Ps., I know you don’t mean it and you are right. I still love you ‘my dinding’.
  •  Untuk victim, cari safe place yang lo tau akan bijak. Better yet, cari professional help. Kontak Lentera by email di lenteraid@gmail.com kasih gambarannya dan nomor kontak lo untuk dihubungi. They will start to contact you to arrange the fittest time to talk about it. And believe me, it helps so much. 30 menit yang sakit, seperti ngeluarin peluru dari fresh wound which, sangat membantu untuk proses healing lo. Dan jangan takut untuk cerita, I know the struggle. I felt like shit, manusia cem apa sih gue, merasa sangat tidak matter di dunia dan sampah, dan gue takut cerita karena banyak battle of thoughts within my mind. Tapi percayalah, kamu butuh cerita. And it helps. Dan cerita ke platform yang tepat ya, yang membantu lo untuk mengalurkan apa yang ada dipikiran lo dengan benang yang tepat. It heals you much. Thus, I send my gratitude towards Lentera. Terima kasih banyak, sangat terima kasih.
  • Terakhir untuk diri gue sendiri sih, this is your point. Gue cukup bangga dan beruntung karena hal tersebut tidak terjadi, I cannot imagine what will happen to me jika memang terjadi. Gue juga belajar untuk tidak reckless. Dan consent itu penting. I know at some nights I live a life yang sangat sarat untuk bersentuhan banyak dengan hal-hal yang tabu dan menyimpang dari norma normatif masyarakat Timur pada umumnya dan selama ini gue merasa tidak pernah mengganggu ataupun diganggu dengan aktivitas tersebut. Tapi, dear Yoan, untuk keberlangsungan hidupmu yang panjang dan mimpi membuat cafe buku plus shelter anjing, draw your line. Know limit and know when to draw yourself out jika indikasinya sudah ‘this will give you harm not fun’. Selama ini gue selalu bersenang-senang dengan orang yang tepat, I mean literally, yang siangnya bisa aja ngomongin politik dan cerita heart to heart dari pacar sampe eksistensialism malemnya main ‘Never Have I Ever’ pake booze sampe bego. Mereka juga aman dan nyaman dan we believe in each other to be shoulder dan thigh to sleep on. Se dependable itu.
    No more act of reckless.
  • Terakhir banget untuk para pria yang kalo udah malem otaknya suka ada di tip of their dick. Jangan bertindak bodoh dan disrepectful that leads to kegoblogan hakiki ya. You are human with brain and heart kan, masa you let yourself driven by your dick? Kalo sampe iya, wah maaf aja nih. Anda berada di kasta terendah dalam strata sosial. Sama kayak catcallers. Pokoknya manusia yang bertindak such thing, yang tidak memanusiakan manusia, musnahlah. Gak penting lo hidup jadi manusia kalo otak aja nggak fungsi dan hati nggak dipake. Jadi amuba aja sana.

 

Sampe sekarang gue masih belum cerita ke temen-temen yang bersama gue malem itu. Lebih sulit. Cukuplah disini. Dan untuk cerita disini pun nggak mudah.

 

Jadi post sepanjang deklarasi ini, diperuntukan untuk menjadi self reminder yang baik untuk diri gue, dan untuk orang yang membutuhkan entah kerabat atau victim atau pria yang terkadang otaknya suka diujung titit.

Jika ada yang membaca dan bertanya gimana kondisi gue sekarang, gue okay tapi tidak sepenuhnya heal. Menurut gue anyone dengan kejadian serupa will never will. Tapi gue sudah bisa berfungsi dengan baik sebagai individu dan as individu di masyarakat. Gue belajar banyak, gue tidak akan berhenti clubbing and sipping booze pft obviously, namun gue akan lebih bijak. Dan menggunakan segala bentuk pertahanan yang dibutuhkan jika dihadapkan dengan perlakuan dengan indikasi otak di titit serupa. I may be girl. Hence I am a girl, gue harus lebih guard up sebagai party yang biasanya lebih vulnerable and I do guard up.

 

Btw gue merasa lebih tenang dan ‘social pressure free’ setelah menarik diri dari eksposur media sosial. Don’t know til when tho, but surely gue akan menggunakan Instagram untuk menjadi platform to publish form of expression I have. Atau pengantar ke tulisan blog gue.

Penghujung post, terima kasih loh buat yang menyempatkan membaca. Saya ngetik ini pake playlist Spotify Noir dan Daydreaming-nya Radiohead.

 

Salam,

 

pukul 03.54 a.m. dan belum tidur.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s