Two Bodies

Been a long time to let my mind fantasize wildly so here we go,

(Ps. please be mind with the word fantasizethanks.)

 

fuck.

it’s been a really long time. 

a really, really long time.

since your lip pressed mine in the most sensual way

with life happening and we both walk our own path,

 

I barely remember

the shiver you gave as your fingers lingers on my skin

 

but tonight

as my Spotify weekly decide to give such songs,

I cannot restrain myself to be in longing.

In longing of us.

In longing of how some nights turn be

 

How simple sips got lost in voices

How forehead kisses went down straight to tongue

How simple night trips drove us into such a ride

How the rush of our blood crash into the night breathe : 

dim lights, moans, and slurty

Combine with heat, sweat, and my car cologne.

 

So the lyric goes: ‘I’m so ready to dimp my mind’

‘I don’t mind if you take advantages of me’

from Two Bodies – Flight Facilities.

 

Ain’t us?

 

 

 

Advertisements
Categories Xx

Suatu Senja bersama Sore

Jadi, hari itu matahari sedang bersahabat

Tak terlalu panas ia bersinar,

dan berkas cahayanya pun tepat.

Tak lebih banyak atau kurang banyak, semuanya cukup.

 

Sang gadis memutuskan untuk berpergian.

Tak biasanya ia mau berkendara menyusuri kota,

Tapi siang itu sangatlah cantik dan bersahabat.

Sang gadis tak ragu memutar kemudi.

Tujuannya Jalan Braga.

Kemananya, belum lah pasti.

 

Sang gadis berjalan di tepian Jalan Braga.

Jalan yang tua dan anggun,

walau agak penuh dan berisik.

 

Sang Gadis membawa notebook dan duduk di resto tua terkenal disana.

Tak biasanya ia menyusuri menu teh, dan memesan teh.

Kesukaannya adalah kopi.

Selalu kopi.

 

Tapi siang itu bersahabat, hangat, dan menenangkan.

Ia pikir, sesekali lah menyeduh teh dan menghirup aroma teh di siang ini.

 

Siang menuju senja

Dan sang gadis mengerjakan apa? Skripsi.

Ya, skripsi, teh, dan senja.

 

Ia mulai bosan.

Dan ia menunggu sesuatu yang menyenangkan untuk datang.

 

Lalu, Sore datang.

Suatu Sore menghampiri sang gadis, menjabat tangannya, dan bercengkrama dengannya.

Bincangannya dengan Sore sungguh sesuatu yang baru dan segar bagi sang gadis.

Sore berbicara tentang artifisial, eksistensial, dan definisi liberal.

Sore membuat sang gadis memutar otak dan terkesima.

 

Jumpanya dengan Sore kali ini sungguh berbeda.

Mengalir, perspektif baru, segar, dan jenaka.

Sore ingin mengajaknya berjalan, memutar Braga sambil bercerita.

Siapalah yang dapat menolak?

 

Langkah-langkah yang diambil sungguhlah ringan.

Sore bicara tentang film yang bagus,

Sang gadis tertawa akan guyon yang dilontarkan Sore

Tak begitu lucu, namun ringan dan membawa senang

Sore bicara bagaimana si gadis ini adalah peringkat satu atas kategori yang ia buat sendiri

Sang gadis merasa malu, namun tertawa jua.

 

Senja sudah berganti.

Warna pudar jingga berangsur gelap dan semakin gelap.

Langkah berhenti.

Senja sudah pergi,

Dan Sore pun harus pamit.

 

Jumpa dengan Sore yang singkat,

sampai sekarang masih terpatri.

Seperti bayang jilat api pada sebuah lilin,

Tariannya selalu menarik untuk dilihat kala sekitar menjadi gelap.

Dan Sore memang menarik.

 

Sore bilang, mari berjumpa lagi

Di suatu hari Sabtu, kali ini agak pagi.

Namun saat Sabtu itu datang,

Sore tidak ada.

 

Apakah Sore memang milik senja?

Hadirnya memang ada di kala hari berganti warna?

 

Jumpa dengan Sore sangat menyenangkan.

Salah satu jumpa singkat yang akan terus diingat.

Jika Sore di senja dapat membaca,

Sang gadis harap dia membaca kisah ini.

 

Dan tidak lalai akan katanya untuk berjumpa lagi.