There are some stuff I would like to share and not, this one I would like to cherish – and soju is my companion thru night

“Equality bitch!”

“I commit to my feed”

“Well I do really miss you”

“I am cherishing these moments”

So there we were, on corner of my favorite bar, devolve between smokes, tunes of Radiohead, and booze.

And despair.

We both in our own longings and hours went by with our phrases of thoughts over one or two.

Sipping away our despair with tequila and light beer.

Laying back.
And broken.

Well, we both teared up and fed up by our own thoughts.

And drown deep.

I mean, we both encounter each other by mind fully occupied and distracted by others.

And the booze tho.
The booze tho.
Darkness came fall and kissed us gently.

Telling us to go and sleep.

But our heart craves not yet come to a pleasure.

Well there are some advice pop up.

But damn we did not find our solitude yet.

Thus, it result to this.

Our tunes of longing.

Advertisements

I make this post with a glass of milk as companion

Suffocated by the air you breath

I was drowned

By the depth of abyss within your eyes

And your firm presence taking over the spotlight of the room
Sharp, and your tender existence

As drawn thru the tender speaks come outta your tender lip

Ugh, how ticklish.
Everything about your appearance is perfection

You know how woman use to worship all Greek gods?

That’s how I become, one of those foolish.
Eh, but

I gotta state this

You are billion worth of worship and adore!
How you move in these spaces

And dance throughout times.

Baby spaces and times is not a bound for your sway
As you speak your name

And lit your cigar,

I know I will have my head spin

No, not because couple sip of wine
But the entire existence of yours

Blew my mind

How fascinating

How overwhelming
Ah, my head started to spin now

As the thought of yours flow thru
I can imagine and fantasize many things with you, right beside

Except bored and lame.

Well in my fantasy I know you will harm me with a way I know will be pleasing

Easing

Ah my dear happy place

Tall long curl hair

After times, after months,

And I’m still in the same profound within ideas and thoughts of you.

And it’s, pleasing.

Categories Xx

Night Longing over A Dick Ass from ages ago – sudden realization

[NIGHT LONGING]

Over 2014 memoirs.

And just like that,

As I walk thru the pathway 

which holds memoir of warm hand and light kisses,
Your entire existence exhale within the smoking street.

Your presence is no longer here

And the echo of your shadow taste no longer an alkali.
I’m inhaling my freedom

The fresh air of ‘you’re no longer here’

And ain’t it funny

I don’t recall our first encounter

And harm

And byes
It’s like, you never exist.
And I am having icy cold thrill as they speak your name.

I skip and clear out all feels and memoirs of  yours.

How to tuck myself to dozing

So lately it’s hard for me to doze off

The tick tock from my wall clock

Which arrow point to two

Does not help me to sleep
So do shots of coffee

I’ve sip my third cup this dawn

And the merry of dreamland is not there to be anchor on
So do shots of liquors

Wine and vodka,

And my second sip of soju tonight

Give no tuck to my mind
Oh well, it helps for a deep sleep.

But not the issues of waking up til 3.
So I’ve been wondering

What is it
Is it the night that is way so cold

Or the hug from my blanket give no amount of warmth I need?

I listen to jazz, Kings Of Convenience, and other sleepy tunes

But no shit is given by my mind.
Ah, my mind.
During the night, it always wanders

Exploring and traveling and wandering

Thru out night breaths and city lights smokes.

It wanders lot.
It does not settle.
Oh, dear. My darling mind.

Please stop your journey and wanders.

Come back to bed.
This instant.

Mencatut dari Akun Tumblr yang Lalu – pt. 3

fufufufu, angin bilang

dan kata-kata termuntahkan dari bibir tipisnya

cerita dari jaman lampau yang tertidur

terbangun, dan berkoar.

“Pernah suatu kali, aku terbang dan tiba-tiba hilang, loh. Asli deh, nggak boong!”

lalu dengan kaki melambai ia ngibrit menubruk air.

air sedang… berair. bagai kan pita-pita tembus pandang yang terus bergoyang tertiup, angin.

“Tenang dan santai saja, kaaahwan. Dunia yang kita hidupi itu ada oleh 2 hal yang bertolak belakang. Maju mundur. Hidup mati. Kebebasan yang saling mengekang!”

lalu ia meluncur, syuuuur, syuuuuur, jauh menuju ke dalam tanah mencari tuan tanah. angin dengan tidak tenang kembali ngibrit.

tanah sedang tertidur, tenang dan damai. terbangunlah ia dan matanya gelap itu redup, sangat redup. rindang pohon terkoyak dan semuanya bergerak. whizz, whizz, whuzz!

“Naik, naik tanah. Angin bertiup terus! Asa telang hilang tersundulnya dan tiap jiwa juga ngawang!” kata air.

“Terus, terus, dan teruslah, angin! Semua harus berusaha bekerja dan hidup dalam keambiguan dalam, tentang mempertanyakan dan dipertanyakan. Terus, terus, dan teruslah, angin! Mari kita bingung bersama.”

api merah dan padam, dan terbakar.

“Bodoh. Diam. Lakukan yg jadi tugasmu.”

ia terbakar dan menyentuh, seketika warna hanyalah nyiur api yang bergoyang geol. terus, terus, dan terus.

Semua abu. Semua abu dalam kondisi kedua. Semua abu dalam perbedaan arti kata.

dan hening.

.

.

.

NTAP kapan lagi saya berkarya yang kontekstual kayak gini? 

Mencatut dari Akun Tumblr yang Lalu – pt. 2

Aku Suka Mati Di Sudut

Aku suka mati disudut.

Sudut itu selalu ada, tapi tidak diperhatikan

Sudut itu penting, tapi terbengkalai

Aku suka mati disudut.

Di sudut, waktu selalu berjalan lebih lama

Di sudut, aku akan tampak tak terlihat

Di sudut, aku akan diselumuti jubah tak kasat mata

Tersembunyi dengan aman

Aku suka mati di sudut.

Aku bisa duduk seharian

Aku bisa tidur seharian

Aku bisa memandangi semuanya seharian, di sudut

Aku suka mati di sudut.

Disana, aku nyaman

Disana, aku tak perlu berpura-pura

Disana, aku tak lagi terbelenggu

Aku suka mati disudut.

Nanti di sudut, ada semut

Nanti di sudut, ada debu

Nanti di sudut, semua hal terlecehkan ada

Kalo aku nanti mati disudut,

Pasti aku tersembunyi

Pasti mayat ku akan membusuk

Pasti aku tenang

Karena itu, aku suka mati di sudut.

Mencatut dari Akun Tumblr yang Lalu – pt. 1

Pada sajak aku bercerita

Menuaikan kata ungkap rasa


Bahwasanya hati ini terkejut

Manggut-manggut melihat kabut

Akan adanya suatu tabir bayang

Yang melayang 

Terbang dan terasa menyenangkan!


Ada kupu-kupu dalam perut, katanya

Ugh, gemuruhnya terdengar sampai telinga

Mengingat akan satu dua memory

Mengagendakan dan membuat skenario cerita

Aku kamu dia kita

Dan betapa rasa itu terasa dekat ya!


Tapi…

Ketika kulihat wajahnya dekat

Jurang itu ada dan jauh itu hadir

Oh tak sedekat itu

Tak senyata mimpi dan angan layu


Upaya raih kuberikan

Tapi jujur aku bingung

Luntang-lantung mencoba katakan

Bahwasanya dirimu mempesona!

Ku teriak kau menutup telinga

Ku diam kau menelisik

Atau… itu pun angan jua?


Tapi sayang,

Sejujurnya ku tak tahu tujuan

Dalam segenap angan dan kisah masa depan

Atau tanda-tanda dan asa

Aku pun belum ingin pasti memilikimu

Kita


Mungkin,

Jika semesta dan Sang Khalik berkehendak

Mengetuk hati mu dan juga hatiku

Membuka rasa rahasia

Aku mungkin akan tau

Bahwa aku menginginkanmu.


Namun sekarang aku kalut.

Tak pasti ingin namun merindu

It’s two in the morning, and that’s the third cup of coffee I sip

And pretty much, I feel so contagious.

By wave of thoughts, contemplation, and issues. Of existents and how’s life turn out this lately.

It’s already the 9th month of the year? Geez, felt like just yesterday I lit the fireworks! 

Time do flies, in a rush. In speed of lightning and that’s scared the shit out of me.
But within the interval of times and spaces, 

Pretty much, nothing chance.

It’s all same.

It’s all lame.

Kinda feel I hop to current moment, skip all the intervals and snaps of memoir.
Damn lame.
Thus, the awareness within this thought rose up. 

I need and act of madness.

Drunk in the current moment to live with

Sparks of energy and randomness

To be really high 

And explode
To break own bound and limit

(Thus) I’ll feel vulnerable and naked

And be free

And truly presence
Much, I crave for it

Drunk in the idea of this nutness

I truly do
Ah, night thoughts.

You somehow evolve yourself, eh?

To some form of creature.

Living creature.

Whom breath I can feel, blowing my neck in delicate.

And give a shiver.

You somehow alive.

Diantara ombak, angin, dan peristirahatan

Ah,

 

Desah sang Ibu Alam mesra dan bergairah,

yang sayupnya terdengar dan menggelitik di telinga

Sudah 5 hari Gadis bekerja

Di ladang, di balong, di kaki gunung

Di antara rumput dan bebatuan

Dan Gadis sudah lelah

Waktunya sejenak rehat

 

Ah,

 

Rintih godaan sang Ibu Alam makin terang terdengar, semakin kencang

Semakin kencang sambi kaki Gadis melangkah jauh dari pikuk kerja

Dan derapannya menuju bibir laut semakin cepat

 

Gadis ingin beristirahat

Dan peristirahatannya terbaring di garis bias linear antara darat dan air

Antara debur ombak dan semilir angin

 

Kesana Gadis melangkah.

 

Langkah kaki telanjang pertamanya,

di peristirahatan yang orang sebut ‘pantai’

di bulir-bulir kecil lembut pasir putih,

Gadis melenguh.

 

Rasa-rasa ini, Gadis suka

 

Terpaan semilir angin dari laut menepuk lembut wajahnya

Dan meniup seluruh tubuhnya

Mengembangkan gaun rumah yang Gadis pakai.

 

Rasanya Gadis ingin berlari ke bibir apa yang orang sebut ‘pantai’

Tapi diputuskan, jalan pelan saja

Gadis ingin menikmati setiap pasir yang menyentuh kaki telanjangnya

Dan tiupan angin tidak ingin dia lewatkan bisikannya

 

Ah,

 

Sang Ibu Alam melenguh panjang

dan Gadis menarik nafas panjang, menahan setiap getar tubuhnya

Angin bertiup mencium

Ombak lembut menggapai

Dan rasa rehat, yang seperti dibaringkan di palungan, komplementer peristirahatannya

Angin, ombak, dan peristirahatan

 

Maka Gadis pun menutup mata

 

Karena kata orang, ‘tutuplah mata mu pada suatu masa tertentu.

maka, klimaks akan menembusmu’

 

Dan Gadis bersumpah, rasanya seperti semua partikel tubuhnya meledak.

 

Gadis menutup mata.

Dan awan abu bergulung bergumul diatasnya.

Pusaran kemelut angin menari di depannya

Dan Gadis tetap menutup mata.

 

AH!

 

Kali ini sang Ibu Alam berteriak

Keras dan sangat kencang sampai Gadis tersentak

Gadis terbangun dari buaiannya dan membuka mata

Halilintar, taufan, dan warna abu bergulung di depan matanya

 

Gadis tahu Gadis menghadapi bencana

Gadis menghadapi ujung berkemelut

Gadis sudah jauh dari rumah

Gadis jauh dari tempat berlindung

Gadis tahu, sudah terlambat.

 

Halilintar, taufan, dan warna abu semakin dekat

dan dekat

Dan semakin nyata

Dan memilukan

Dan menelangsakan

Dan membunuh

 

 

Gadis tahu adanya pilihan

 

 

Antara bertahan berdarah sampai mati,

atau berdiam sampai mati itu datang