Menyelinap di Antara Jari

Seorang anak pergi ke pantai

Hanya sendiri, dengan pasti

Ia berbahagia

‘hari ini, aku akan ke pantai’

Dalam bayangnya biru langit dan awan putih menggulung

Bahkan sinar matahari yang biasa ia hindari karena panasnya membara

Ia biarkan menyetuh kulitnya

‘Tak apa, angin pantai akan mencium dan meniup bara ini pergi’

 

Ia sampai di pantai

Ia tertegun

Langitnya, biru, ya

Tapi awannya agak abu

Walau tak semuanya abu

Angin juga ada disana

Namun yang dia tiupkan, nihil

Terkadang ada hembusan angin, namun rasanya agak dingin

‘Aku kesini untuk pantai. Ya, aku harus menyentuh air’

Ia hiraukan sendu yang mengulung

 

Ia semakin dekat ke bibir pantai

Airnya beriak namun tak hebat

Kakinya sudah telanjang

Ia menunggu

Menunggu terjangan lembut buih ombak menyentuh kulitnya

Tapi, ah…

Tak sampai jilatan air pantai menggapai jari kakinya

‘Tapi sejauh ini aku dapat melangkah’

Akhirnya, ia mengangkat sebelah kakinya

Menyentuhkannya ke pantai

Ia bergetar

Bukan karena kegirangan

Tapi karena dinginnya

Pula angin pantai menghembus hawa dingin

 

Ia bergerak mundur

Menatap lagi jilatan air

Ia pun duduk

Celananya hanya sampai setengah lutut, 10 cm keatas

Dan pasir memasuki celananya

‘Hmm, aneh, Kukira rasa pantai akan hangat.

Angin, langit, awan, dan riak airnya.

Bahkan sengat matahari akan menyenangkan.

Tapi tidak ya.

Apa ku datang di hari yang salah?

Apa aku harus cari pantai lain?

Yang sama seperti anganku?’

 

Dia menggapai pasir, menyentuh kerikil dengan jarinya

Meraup satu genggam pasir

 

‘Ku bawa angan ku terlalu jauh tadi

Tidak sama.

Tapi pasir akan sama kan disemua pantai?

Ternyata agak sakit dan ganggu’

 

Dan semakin ia genggam kuat pasir itu

Menyelinap di antara jari

Ia lepas genggaman pasirnya

Menyelinap di antara jari

Advertisements

AKU BENCI KUTANG!

Menjijikan

Di Bandung yang katanya dingin

Dan memang dingin

Kutang membalut lingkar dadaku dan memegang pasti 2 bukit ini

Tapi demi Tuhan yang universal dipercayai umat semesta

AKU BENCI KUTANG

 

Hari lain aku di Jakarta

Bertambah benciku pada kutang

Dengan 2 cupnya menahan dan tali-tali kencang di pundak

AKU BENCI

Menyakitkan dan menyesakan

Ku longgarkan tali

Ku kaitkan dipaling ujung

Tetap

Sesak

 

Terkadang aku susah bernafas

Tidur juga jadi sulit

Kala panas

Keringat di dadaku lebih banyak dari di ketiak

Banyak dan panas

Dan menahan

 

Aku benci kutang!

 

 

Rasa Basa

Aku pernah membeli es krim

Hari saat itu panas dan tenggorokku membara

Ku dapat es krim

Dan kupegang

Ku pegang dan ku liat lekat

Spiral putih

Dan taburan choco cips

Sungguh, satu es krim yang majestik!

 

Hari itu panas

Terik matahari menyengat sangat

Perlahan putih spiral itu meleleh

Aneh

Putih dan cair serta lengket

Seperti peju

Perlahan leleh

Choco cipsĀ  yang tertabur dan sebelumnya mempercantik

Ikut mengalir dengan lelehan putih

Jatuh lah ia ke tanah

Spiral putih memeleleh

Cair lengket dan putih seperti peju

Sampai habis es krim leleh

Menggenang di tanah

 

Aku tak memakan es krim ku

Mencobanya pun tidak

Menjilat tangan yang bersisa lelehan cair es krim pun tidak

Karena aku takut

Bagaimana jika jilatan es krim yang awalnya majestik itu akan enak?

Atau tidak enak?

Bagaimana jika ku jilat lagi rasanya akan enak?

Atau tidak enak?

Bagaimana jilatan lainnya?

Bagaimana rasanya?

Aku takut jika rasa es krim ku berubah.

Mengejutkanku.

Aku tidak suka kejutan.

Ketidakpastian yang pasti.

 

Tenggorokku masih membara

Dan lidahku mendapat sensai es krim

Tapi biarlah

Biarlah dia kecap rasa yang sudah ada

Rasa basa

Rasa biasa

 

The reason behind me-Anon

Oh, hi!

 

Jadi dalam kesempatan ini, dicoba diuraikan

Mengapa dalam nama akun blogging ini tercantum ‘me-Anon’

Dan pada akun lainnya

Yang disadari baru saja alasannya!

 

Bahwasanya

Aku buta definisi

Tidak

Aku menolak definisi.

I hate to define

And to be defines

Maka aku bermasalah dalam memberikan definisi

Pada judul puisi

Pada rasa

Dan pada diriku sendiri

 

Aku kira ini hanya masalah ‘I don’t know cool name for my blog’ probz

Damn my brain doesn’t work when it comes to give judul

Ah fuck this name lemme just put Anon as well

 

Eh

 

Ternyata

Bahwasanya

‘Anon’ ini bukanlah ke-tidak-sengajaan.

Anon – as in anonymous iniĀ – bukan sekedar ada

Tapi

Sebagai bentuk ketidakmampuan dalam memberi definisi

Dan hendaknya dahulu aku memilih untuk tidak terdefinisi

Menjadi tiada, menjadi anonymous

 

Voila, jadilah anon!

me-Anon!

 

Eh tapi,

bahwasanya dewasa ini tanpa definisi menjadi hambatan pula ya

Menjadi pengganjal

Become an issue as well.

 

Akan diuraikan kemudian pada tuangan di suatu kesempatan.

 

Selamat malam!